Berikut kutipan artikel dari Suwandono (Motivator dan Penulis Novel)
Siapa pun bisa mengadopsi jurus ATM ini, yang berpendidikan tinggi hingga yang buta huruf, yang memiliki modal kapital dan yang bermodal “dengkul”, yang hidup di kota maupun desa.
Berikut ini uraian secara garis besar tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan metode ATM.
Mengamati bukan dalam arti hanya melihat, akan tetapi mempelajari seluk beluk bisnisnya, menganalisis dan menyimpulkan.
Bisnis yang dipilih untuk diamati tentu bisnis yang bidang dan skalanya sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita (memungkinkan untuk dilakukan).
Jauh lebih baik jika memilih bidang bisnis yang disukai, karena peluang keberhasilannya akan lebih tinggi.
Oleh karenanya menuntut kejelian dan kecerdikan.
Seorang pengamat yang baik adalah yang berhasil menyerap banyak hal dari obyek yang diamati, termasuk kekurangan dan kelebihannya.
Konsultasi dengan pelaku bisnis yang gagal dalam bidang yang sama juga patut dilakukan.
Dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif (lengkap).
Namun, cara paling mudah untuk memulai proses pengamatan adalah dengan menjadi konsumen dari sasaran yang dimaksud, melakukan dialog dan interaksi langsung.
Jika tidak ingin repot memeras otak dan energi untuk merancang sistem dan berbagai hal teknis, maka langkah meniru adalah cara paling mudah untuk dilakukan.
Jangan sampai terjebak dalam situasi yang berakibat buruk, melanggar etika dan hukum.
Prinsip usaha, pola kerja, sistem manajemen, peralatan yang digunakan, proses produksi, standar pelayanan, strategi pemasaran, hingga mentalitas dan fighting spirit adalah hal yang dapat ditiru dan tidak beresiko berurusan dengan hukum.
Jika yang ditiru adalah logo perusahaan, merek dan hal lain yang dilindungi undang-undang, tentu akan berakibat fatal.
Dengan adanya contoh yang telah diamati maka menyusun perencanaan bisnis menjadi amat mudah.
Langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti perencanaan tersebut dengan tindakan nyata.
Dengan menempuh metode “Amati dan Tiru”, dapat memangkas pemborosan waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk menemukan ide bisnis serta memikirkan cara kerjanya.
Keuntungan lainnya adalah bidang bisnis yang diamati dan ditiru adalah bidang bisnis yang telah terbukti diterima “pasar” dan menuai sukses.
Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip dasar dalam berbisnis, yakni memilih bidang usaha yang dibutuhkan orang banyak, bukan bidang usaha yang “bisa” kita lakukan.
Karena apa yang bisa kita lakukan/kerjakan belum tentu diterima “pasar” dan menuai sukses.
Apalah artinya kita bisa membuat/memproduksi suatu barang/jasa tetapi tidak laku di pasaran?
Perbedaan kharakter, gaya, sumber daya dan kondisi antar individu menuntut modifikasi harus dilakukan. Selain sebagai penyesuaian, modifikasi juga bertujuan untuk menutup kelemahan (dari hasil pengamatan) dan memberi nilai tambah.
Pada tahapan inilah diperlukan kreativitas dan kejelian, agar perubahan/penyesuaian yang dilakukan dapat menambah daya tarik dan efektifitas.
Selain untuk menghindari disebut plagiat, modifikasi tersebut bertujuan untuk menambah baik hal yang sudah baik. Kita bisa mempermudah, membuat lebih nyaman, lebih sederhana, lebih bersih, lebih sesuai harganya, dan lebih-lebih lainnya.
Dalam dunia bisnis, hampir semua pelaku bisnis juga telah menerapkan metode ini dalam menemukan ide bisnis baru atau untuk mengembangkan bisnis yang telah ada.
Salam
Zilah Kris