Wednesday, September 18, 2013

Ide bisnis? Amati Tiru Modifikasi



Mungkin banyak teman yang ingin memulai bisnis, tapi bingung...
Mau bisnis apa?
Bagaimana cara menemukan ide bisnis?
Bagaimana memulainya?
Saya juga mengalami hal serupa, saya hunting banyak buku dan artiel tentang ide bisnis, terutama bisnis untuk Ibu Rumah Tangga seperti saya..
Namun semakin banyak artikel yang saya baca semakin bingung menentukan..
Keluarga saya tidak ada yg berlatar belakang pebisnis (tapi orang tua saya punya kontrakan, hehehe termasuk bisnis dngan resiko kecil ya J )
Apakah memang sulit untuk menemukan ide bisnis dan memulainya?

Berikut kutipan artikel dari Suwandono (Motivator dan Penulis Novel)

Apakah memang sulit untuk menemukan ide bisnis dan memulainya? TIDAK.
Ada metode amat sederhana dan efektif, yakni metode ATM : Amati, Tiru, Modifikasi. 
Metode ini amat mudah diterapkan dan tidak memerlukan banyak teori. 
Siapa pun bisa mengadopsi jurus ATM ini, yang berpendidikan tinggi hingga yang buta huruf, yang memiliki modal kapital dan yang bermodal “dengkul”, yang hidup di kota maupun desa.

Berikut ini uraian secara garis besar tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan metode ATM.


AMATI

Yang dimaksud adalah mengamati bisnis yang sukses dijalankan orang lain. 
Mengamati bukan dalam arti hanya melihat, akan tetapi mempelajari seluk beluk bisnisnya, menganalisis dan menyimpulkan. 
Bisnis yang dipilih untuk diamati tentu bisnis yang bidang dan skalanya sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita (memungkinkan untuk dilakukan). 
Jauh lebih baik jika memilih bidang bisnis yang disukai, karena peluang keberhasilannya akan lebih tinggi.
Mengamati, pada prinsipnya adalah proses belajar dan menyerap pengalaman orang lain. 
Oleh karenanya menuntut kejelian dan kecerdikan. 
Seorang pengamat yang baik adalah yang berhasil menyerap banyak hal dari obyek yang diamati, termasuk kekurangan dan kelebihannya.
Jika misalnya telah memiliki ketertarikan terhadap suatu bidang bisnis yang terbukti sukses dijalankan orang lain, seyogianya pengamatan dilakukan tidak hanya pada satu sasaran, jauh lebih baik jika mengamati beberapa sasaran dengan bidang bisnis yang sama. 
Konsultasi dengan pelaku bisnis yang gagal dalam bidang yang sama juga patut dilakukan. 
Dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif (lengkap).
 Perihal teknis pengamatan tentu bisa berbeda antar individu karena setiap orang memiliki gaya masing-masing yang dirasa efektif. 
Namun, cara paling mudah untuk memulai proses pengamatan adalah dengan menjadi konsumen dari sasaran yang dimaksud, melakukan dialog dan interaksi langsung.

TIRU
Setelah proses pengamatan usai dilakukan dan memperoleh pengetahuan yang cukup, langkah selanjutnya adalah melakukan action
Jika tidak ingin repot memeras otak dan energi untuk merancang sistem dan berbagai hal teknis, maka langkah meniru adalah cara paling mudah untuk dilakukan.
Yang harus diperhatikan dalam proses meniru adalah etika dan pertimbangan yuridisnya. 
Jangan sampai terjebak dalam situasi yang berakibat buruk, melanggar etika dan hukum. 
Prinsip usaha, pola kerja, sistem manajemen, peralatan yang digunakan, proses produksi, standar pelayanan, strategi pemasaran, hingga mentalitas dan fighting spirit adalah hal yang dapat ditiru dan tidak beresiko berurusan dengan hukum. 
Jika yang ditiru adalah logo perusahaan, merek dan hal lain yang dilindungi undang-undang, tentu akan berakibat fatal.
Proses meniru dimulai dari tahap perencanaan. 
Dengan adanya contoh yang telah diamati maka menyusun perencanaan bisnis menjadi amat mudah. 
Langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti perencanaan tersebut dengan tindakan nyata.

Dengan menempuh metode “Amati dan Tiru”,  dapat memangkas pemborosan waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk menemukan ide bisnis serta memikirkan cara kerjanya. 
Keuntungan lainnya adalah bidang bisnis yang diamati dan ditiru adalah bidang bisnis yang telah terbukti diterima “pasar” dan menuai sukses. 
Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip dasar dalam berbisnis, yakni memilih bidang usaha yang dibutuhkan orang banyak, bukan bidang usaha yang “bisa” kita lakukan. 
Karena apa yang bisa kita lakukan/kerjakan belum tentu diterima “pasar” dan menuai sukses. 
Apalah artinya kita bisa membuat/memproduksi suatu barang/jasa tetapi tidak laku di pasaran?

MODIFIKASI
Apakah tidak cukup dengan mengamati lantas meniru? Belum. 
Perbedaan kharakter, gaya, sumber daya dan kondisi antar individu menuntut modifikasi harus dilakukan. Selain sebagai penyesuaian, modifikasi juga bertujuan untuk menutup kelemahan (dari hasil pengamatan) dan memberi nilai tambah. 
Pada tahapan inilah diperlukan kreativitas dan kejelian, agar perubahan/penyesuaian yang dilakukan dapat menambah daya tarik dan efektifitas.
Jika contohnya sudah baik dan terbukti sukses, apakah tetap diperlukan modifikasi? Menurut saya, modifikasi tetap harus dilakukan. 
Selain untuk menghindari disebut plagiat, modifikasi tersebut bertujuan untuk menambah baik hal yang sudah baik. Kita bisa mempermudah, membuat lebih nyaman, lebih sederhana, lebih bersih, lebih sesuai harganya, dan lebih-lebih lainnya.

Metode Amati Tiru Modifikasi ini sebenarnya adalah metode alamiah yang telah dilakukan oleh semua manusia dalam segala aspek kehidupan. 
Dalam dunia bisnis, hampir semua pelaku bisnis juga telah menerapkan metode ini dalam menemukan ide bisnis baru atau untuk mengembangkan bisnis yang telah ada.
Sebagai pengusaha property, saya pun melakukan hal yang sama. Mengamati banyak proyek real estate, melihat trend yang ada, mempelajari konsep yang diterapkan pengusaha lain yang terbukti sukses dan lain sebagainya. Dari hasil pengamatan tersebut, saya berusaha meniru dan memodifikasi untuk pengembangan bisnis saya sendiri.
Bagi pembaca yang memiliki keinginan kuat untuk berwirausaha tetapi masih belum menemukan ide bisnis dan tak tau cara memulainya, metode Amati Tiru Modifikasi ini patut dijadikan alternatif jalan keluar. Amati bisnis orang lain yang terbukti sukses, pelajari segala sesuatunya, tiru semua hal yang baik, buang yang buruk, modifikasi/sesuaikan dengan keadaan diri sendiri, mulailah action membangun bisnis.
Untuk menjadi pengusaha sukses tidak harus menjadi “penemu”, banyak pengusaha hebat yang sebenarnya hanyalah “peniru yang cerdas”. Meskipun pada awalnya hanya mengamati, meniru dan memodifikasi bisnis orang lain, pada akhirnya akan bisa menemukan gaya dan seni tersendiri setelah melakukan action.
Semoga uraian singkat ini dapat menjawab pertanyaan “Bagaimana cara menemukan ide bisnis? Bagaimana memulainya?”. Semoga.(*)

Salam
Zilah Kris

Tuesday, August 20, 2013

Anak anda masih sering ngompol?



Sekedar sharing..
Anja anak pertama saya, sekitar umur 2thn sdh tidak ngompol..
Tiap malam pakai pospak.. tapi pagi hari selalu dalam kondisi kering..
Kemudian lanjut Toilet Learning..
Setiap bangun tidur langsung di bawa ke toilet untuk pipis..
Setiap 2 jam sekali dibawa ke toilet untuk pipis (kadang udah keduluan Anja pipis di pospak), sebelum tidur wajib pipis dulu..
Alhamdulillah tidak sampai usia 2,5 tahun sudah lepas pospak dan sudah tidak ngompol

Cerita tadi berdasarkan pengalaman saya dengan anak pertama saya..
Sekarang anak kedua saya masih berumur 1 thn 4 bulan..
Sudah mulai saya ajarkan Toilet Learning tp karena ngomongnya belum jelas.. kadang saya sering terlewat.. atau saya tidak paham dengan “TANDA” yg adek sampaikan:D

Saya mencoba Browsing tentang “OMPOL”
Dan menemukan Artikel yg bagus ini...
Ternyata....

Pada umur 2 tahun, umumnya anak-anak sudah tidak mengompol di kala tidur siang hari, tapi kadang-kadang masih mengompol pada malam hari. Pada umur 3 tahun, tiga dari empat anak sudah tidak mengompol pada malam hari. Bagaimana bila Balita Anda masih sering ngompol? Ada beberapa penyebab:
  • Mengalami keterlambatan proses pematangan sistem saraf. Pada sebagian anak, perkembangan metabolisme yang melibatkan sistem saraf pusat, otot-otot pengontrol kembang-kempis kandung kemih, dan kemampuan otaknya untuk memberi perintah ”bangun” kepada tubuh saat kandung kemih penuh, berjalan lebih lambat.
  • Anak tidur sangat nyenyak (deep sleep). Banyak orangtua mengeluhkan anak mereka yang sangat sulit dibangunkan dari tidur. Ini salah satu ciri khas anak-anak yang mengalami masalah mengompol.
Coba kita terapkan cara-cara berikut:  
  1. Bersikap sewajar. Jangan jengkel, marah, atau panik. Bukahkah ia ngompol  tanpa sengaja? Proses perkembangan kemampuan mengontrol fungsi kerja kandung kemih ini memang butuh waktu dan kesabaran. Namun, bukan berarti Anda boleh mengganggapnya hal biasa. Ajak si kecil membantu Anda mengganti sepreinya atau membersihkan bekas ompolnya. Setelah itu, cari kesempatan untuk membicarakan masalah ini tanpa menyalahkannya.
  2. Bangun rasa percaya diri anak. Selain tidak menyalahkan, apalagi sampai mempermalukannya di depan orang lain, beri pemahaman bahwa dia bukan satu-satunya anak yang masih mengompol. Kalau salah satu dari Anda kebetulan pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil, katakan padanya. Dengan demikian, anak tidak merasa hanya dia yang melakukan 'kesalahan' itu.
  3. Bantu anak belajar untuk yakin bahwa dia bisa berhenti mengompol. Bantu dia mengajaknya ke kamar mandi dan membuka celananya. Lakukan setelah anak minum susu, atau sebelum dan sesudah tidur. Bahkan, jika anak bangun tidur dan mengompol, ajak dia ke kamar mandi untuk BAK lagi atau sekadar membersihkan badannya. Lakukan secara konsisten. Namun, sebaiknya Anda tidak membangunkan anak di malam hari untuk ke toilet, karena tidak memberi dia kesempatan belajar kontrol BAK atas kesadarannya sendiri.
  4. Ciptakan sarana yang mendukung proses belajar, misalnya dengan menambahkan alas duduk khusus untuk anak-anak pada dudukan kloset, dan memberi penerangan yang memadai di sepanjang jalan dari kamar tidur ke kamar mandi.
  5. Beri pujian atau hadiah bila anak tidak ngompol agar dia semakin termotivasi  mengatasi masalahnya. Hadiah bisa berupa sekadar memeluk dan menciumnya sampai mengajaknya jalan-jalan ke tempat bermain favoritnya.
  6. Tanamkan kebiasaan baru, seperti:
  • Lebih banyak minum pada siang hari. Namun, jangan menyuruhnya mengurangi minum pada malam hari. Selain tidak membantu mengatasi masalah mengompol, si kecil juga harus tetap cukup minum.
  • Menghindari makanan yang banyak mengandung garam atau teh, terutama menjelang tidur malam. Selain tidak baik untuk kesehatan, jenis makanan atau minuman ini bisa merangsang keinginan untuk BAK.
  • Membatasi penggunaan popok sekali pakai, misalnya hanya sepanjang perjalanan atau keluar rumah dalam waktu relatif lama. Memang popok jenis ini mempermudah orangtua demi kebersihan dan kesehatan, namun membuat gerak anak terbatas dan dia akan terbiasa BAK kapan saja dan di mana saja.  
Ke Dokter bila:
  • Ngompol lagi setelah berhenti minimal 6 bulan. Ini dinamakan ngompol sekunder. Istilah ngompol primer diberikan pada anak yang sejak lahir hingga usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, dan belum pernah “kering” minimal 6 bulan. Pada ngompol sekunder, kadang-kadang diperlukan pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang lebih lengkap daripada ngompol primer.
  • Mengeluhkan ada rasa panas atau sakit saat BAK Siapa tahu dia mengalami infeksi saluran kemih.
  • Makan atau minum lebih banyak dari biasanya disertai sering pipis. Gejala ini biasanya dikaitkan dengan gangguan metabolisme, yakni kencing manis usia dini.
Sumber : Ayah bunda

Thursday, August 15, 2013

Sibling Rivalry - Persaingan antara saudara kandung

Teman - teman mungkin pernah mengalami atau melihat ada seorang kakak mendorong adiknya hingga jatuh terduduk dan menangis. hanya karena Si kakak ingin meminta mainan yang dipegang adiknya, namun tidak dikasih. Lantas direbutlah mainan itu dan si adik di dorong. tak lama berselang si ibu menggendong si adik yang sedang menangis, tiba tiba si kakak segera meletakkan mainan yang direbutnya tadi, lantas mengangkat kedua tangannya minta di gendong juga. (mungkin karena ga kuat menggendong 2 anak sekaligus) si ibu membujuk si kakak agar bergantian aja gendongnya, nunggu si adik diam dan tenang dulu. Eh, malah si kakak yang nangis (atau pura-pura nangis) sambil menghentakkan kakinya di lantai. Maka di mulailah episode perebutan mama. Perebutan perhatian. dan ini disebut SIBLING RIVALRY

Sibling rivalry adalah persaingan atau kompetisi diantara saudara kandung untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Sibling rivalry bisa berwujud kecemburuan, persaingan dan juga pertengkaran.

Apakah Sibling Rivalry dalam keluarga sulit diatasi?
Banyak yang menyarankan untuk memiliki anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun dengan alasan agar lelahnya sekaligus dan ke depannya orang tua tinggal santai menunggu hasilnya. Hal tersebut memang menimbulkan pro dan kontra, karena di sisi lain membesarkan 1 orang saja dapat dibilang berat apalagi bila harus membesarkan 2 anak sekaligus. Di samping itu, usia anak sampai dengan 5 tahun merupakan saat-saat yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jangan sampai karena kerepotan orang tua yg mengasuh 2 orang anak sekaligus menjadikan mereka "salah asuhan" dan menghambat perkembangannya.

Hubungan antara adik dan kakak yang masih kecil merupakan salah satu interaksi yang berpotensi menimbulkan konflik dan bisa menyebabkan adanya sibling rivalry, yaitu permusuhan dan kecemburuan antar saudara kandung yang dapat menimbulkan ketegangan diantara mereka. Sibling rivalry dapat berbeda intensitasnya tergantung pada jarak usia anak, usia anak itu sendiri, jenis kelamin anak serta urutan kelahiran.
Saudara kandung dengan jarak usia yang pendek akan bertengkar lebih hebat dibandingkan dengan yang jauh perbedaan umurnya. Begitu juga saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama, akan bersaing lebih hebat dibandingkan dengan yang berbeda jenis kelaminnya.

Sibling rivalry ini dapat terjadi bila masing-masing anak berusaha untuk lebih unggul satu dengan yang lain. Selain itu peranan orangtua juga sangat penting dan menentukan akan terjadinya sibling rivalry ini dalam keluarganya. Salah satunya adalah karena salah satu anak merasa terancam dengan terbaginya perhatian pada anak yang lain, karena mereka masih sangat bergantung pada cinta dan kasih sayang orangtuanya. Pembagian perhatian yang tidak adil juga dapat menyebabkan sibling rivalry, karena salah satu anak cemburu dan merasa tersisih oleh saudara kandungnya. Sementara penyebab lainnya berasal dari diri anak itu sendiri, yaitu saat salah seorang anak menyadari kekurangannya dari saudara kandungnya.

Untuk mengatasi sibling rivalry dalam keluarga, ada beberapa tips yang dapat dipraktekkan oleh orangtua. Jika ini Anda lakukan niscaya anak-anak Anda akan memiliki rasa toleransi, berempati satu sama lain serta dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mendatangkan masalah baru.

*Membagi perhatian secara adil*

Untuk menghindari kecemburuan antar anak, sebagai orangtua harus membagi perhatian secara adil kepada anak-anak. Anak kecil yang didera rasa cemburu akan membuatnya mencari alasan untuk bertengkar dengan saudara kandungnya karena merasa orangtuanya tidak adil dengan memberi perhatian yang lebih banyak pada saudaranya. Untuk itu, Anda dapat bergantian dalam memberi perhatian bersama anak-anak, misalnya hari Senin Anda menemani sang kakak les bahasa Inggris, Selasa menunggui sang adik les matematika, Rabu kembali menemani sang kakak latihan basket, Kamis menemani sang adik les piano, dan seterusnya sampai hari Minggu Anda menghabiskan waktu bersama mereka berdua dengan berjalan-jalan ke kebun binatang atau mengunjungi rumah kakek dan nenek.

*Memberi kesempatan yang sama*

Salah satu yang kerap menjadi bahan pertengkaran adalah acara televisi. Di satu sisi sang kakak ingin menonton acara A, sementara sang adik ingin menonton acara B. Salah satu cara mengatasinya adalah Anda dapat memasang alarm dengan hitungan menit tertentu, misalnya 30 menit, bagi tiap orang anak untuk menonton acara yang diinginkannya dan memegang remote tv. Setelah alarm berbunyi, Anda dapat memberikan kesempatan pada anak yang lain untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian, mereka akan merasakan keadilan karena pembagian jatah waktu yang sama disamping melatih toleransi pada anak-anak.

*Memakai label masing-masing barang anak*

Mainan juga kadang menjadi salah satu bahan pertengkaran, terutama pada anak-anak yang berjenis kelamin sama. Solusinya, Anda dapat memberikan label pada masing-masing mainan anak Anda agar mereka tidak saling berebut. Selain itu, mereka juga akan terdidik untuk menghargai barang milik orang lain serta melatih sikap empati dengan merasakan bila barang miliknya direbut atau dipakai oleh orang lain. Namun setelah mereka beranjak besar, Anda juga harus mengajarkan mereka untuk berbagi dengan menggunakan barang yang sama secara bergantian untuk melatih toleransi dan kebersamaan.

*Menyaring tontonan mereka*

Saat ini acara-acara televisi sudah jarang yang ditujukan khusus untuk anak. Tiap stasiun televisi cenderung membuat program-program untuk remaja dan dewasa yang lebih menguntungkan dari sisi finansial. Disinilah tugas Anda sebagai orangtua untuk menyortir tayangan-tayangan yang boleh ditonton anak atau tidak. Jangan sampai karena Anda membebaskan anak untuk menonton acara yang penuh adegan kekerasan, anak menjadi sangat agresif pada saudara atau temannya karena meniru apa yang dilihatnya di televisi seperti kasus-kasus pada anak yang pernah santer terdengar beberapa waktu yang lalu.

Untuk itu, latihlah anak-anak Anda dengan memberikan aturan-aturan yang berlaku dan membuat mereka menjadi anak yang tertib agar tidak terjadi sibling rivalry dalam keluarga.

Sumber : ayahbunda

Sunday, June 23, 2013

Mengendalikan Keinginan

Seorang anak berusia empat tahun tujuh bulan di Arab Saudi menembak ayahnya hingga tewas, karena tidak dibelikan Play Station. Menurut pihak kepolisian Jizan Selatan dalam harian Saudi Asharq, anak tersebut mengamuk lalu menembak kepala ayahnya.
Kejadiaannya bermula saat ayahnya hendak bekerja, si anak meminta Play Station. Namun ketika sang ayah kembali ke rumah tanpa membawa yang dia minta, si anak marah. Saat ayahnya membuka pakaian dan meletakkan senjatanya, si anak mengambil senjata tersebut dan menembaknya dari jarak dekat.

Kisah di atas memang jarang terjadi, namun memberikan pelajaran bagi kita, bagaimana pentingnya kemampuan mengendalikan keinginan anak. Apabila anak dimanja biasanya ia tidak siap ketika keinginannya ditolak. Anak bisa marah tak terkendali dan melakukan hal yang di luar batas.
Sifat manja pada diri anak tentu saja tidak muncul begitu saja, namun karena pola pengasuhan yang dia terima sejak kecil. Kadang cinta orangtua yang berlebihan menjadi salah kaprah sehingga memanjakan anak dengan berlebihan. Hal itu sesungguhnya dapat merusak karakter anak. Ciri sikap memanjakan di antaranya: anak boleh minta apa saja, boleh berbuat sesuka hati, orangtua tidak mengajarkan aturan dan batasan, serta pelayanan dan perlindungan supaya anak terhindar dari kesulitan dan tantangan.

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak dalam Islam menegaskan bahwa pemanjaan yang berlebihan akan menumbuhkan sifat penakut dan rendah diri, menghilangkan keberanian, mengarahkan anak pada penyimpangan, dan keinginan untuk mengasingkan diri dari teman-temannya.

Banyak yang beranggapan bahwa kebiasaan memanjakan anak hanyalah di kalangan orang kaya. Padahal, itu tidak tergantung pada kekayaan tetapi pada pemahaman orangtua mengenai cara pengasuhan anak yang baik.

Untuk itu, perlu kekompakan antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak. Jika salah satu di antaranya memanjakan, maka anak akan memiliki standar ganda. Kalau anak sering berkata, “Bu, jangan bilang-bilang Ayah ya!” atau sebaliknya, itu pertanda bahwa orangtua tidak kompak dalam mengasuh anak.

Penyebab orangtua memanjakan anak di antaranya: pertama, tidak mau repot dengan reaksi anak seperti menangis, rewel, atau marah. Kedua, khawatir merusak “kebahagiaan” anak. Ketiga, takut membuat anak benci kepada mereka. Keempat, orangtua yang serba susah di masa kecilnya, dia tidak ingin anaknya mengalami apa yang dia rasakan. Karena faktor-faktor tersebut maka orangtua cenderung memperturutkan keinginan anaknya. Orangtua tidak berani mengatakan “tidak”. Tidak mengajarkan disiplin, tidak memberi tahu saat anak berbuat salah atau tidak patut, dan tidak membiasakan peraturan, serta etika.

Dengan memanjakan, maka anak akan “memperbudak” orangtuanya. Padahal, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Muslim dikatakan bahwa salah satu tanda Hari Kiamat adalah saat wanita melahirkan tuannya, yaitu saat anak-anak memperbudak orangtuanya.

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mengajarkan anak-anak kita mampu mengendalikan keinginannya. Selama satu bulan penuh orangtua dapat membuat program pendidikan agar anak dapat mengendalikan nafsu, bukan saja makan dan minum, namun juga pada keinginan lainnya.

sumber : * Penulis buku Mendidik Karakter dengan Karakter. SUARA HIDAYATULLAH AGUSTUS 2012

Thursday, June 20, 2013

Manfaat Kontak Kulit dengan bayi

Ternyata, kontak langsung antara kulit mama dengan kulit bayi (alias kangaroo care) memiliki berbagai manfaat. Mulai dari menstabilkan detak jantung si kecil, membuat tidur si kecil lebih nyenyak, hingga membuat proses menyusu lebih mudah. 

Awalnya, kangaroo care dilakukan di Colombia pada tahun 1970an untuk menyiasati peningkatan angka kematian bayi prematur yang sangat dratis. 

Caranya? Letakkan bayi dalam ‘kantung’ mama (blus atau kaus) dan hangatkan tubuhnya selama minimal 1 jam per hari, beberapa kali dalam seminggu. Dengan cara ini, bayi akan mendapat manfaat kesehatan yang sangat optimal. 

Cleveland Clinic, academic medical center di Ohio dan salah satu rumah sakit terbaik di AS menawarkan tahapan untuk menghangatkan si ‘kangaroo’ kecil mama, yaitu:

1. Mama kenakan pakaian yang terbuka pada bagian depannya. Lepas bra atau baju dalam.

2. Lepaskan seluruh pakaian kecuali popoknya.

3. Letakkan bayi di dada dengan posisi menghadap mama, lalu tutuplah dia dengan blus atau kaus mama.

4. Lupakan keinginan untuk bermain dengan bayi. Duduk bersandar dan rilekslah.

Sumber: majalah parenting