Thursday, August 31, 2017

Menjadikan Ibadah Anak Kita Menyenangkan

Oleh ibu Elly Risman
The CEO Building, 30 Agustus 2017

Mengapa ibadah perlu menyenangkan?
- karena target yang kita latih itu adalah anak-anak.
Pada fase anak, pusat perasaan yg berkembang lebih dulu. Jadi kenalkan dengan perasaan. Rasa sayang sama allah.
Sayang sama ayah bunda.
Sabar
Minta maaf
Bilang terima kasih
Segala sesuatu yg berputar pada perasaan.

- karena tujuan kita adalah sesuai perintah Allah, yaitu yg tercantum dalam surat QS. Adz Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Kesadaran bahwa tujuan utama mengasuh anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah.
Penanggung jawab utama AYAH.
Supaya menjadi ibadah yang baik benar, maka harus ada kerjasama orang tua. Tidak bisa ibunya saja, atau hanya ayahnya saja.
Tanggung jawab orang tua :
- membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Supaya anak faham, tidak terbebani dan tidak menolak karena senang.
Ukir kenangan yang menyenangkan,
Jadi buatlah anak SUKA dan BAHAGIA.
Ingat, Anak adalah TITIPAN ALLAH
Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan ke pemiliknya.
Anak-anakmu bukan pilihanmu, tapi takdir.
Jadi baik anak ataupun kita orangtuanya tidak bisa memilih. Maka terimalah takdir itu sebaik2nya.

Tantangan mengajarkan anak beribadah menyenangkan :
1. Dari dalam diri dan pasangan ➡ selesaikan urusan diri sendiri dan pasangan :
- Dulu diajarkan beribadahnya gimana?
- Rasanya gimana?
- Apakah pemahaman agamanya terbatas atau tidak?
- ingat dari awal pernikahan, bahwa tujuan hidup anak dan seluruh keluarga adalah penyembah Allah.
- dan ingat juga, bahwa penanggungjawab utama adalah AYAH
Ayah harus menggariskan semua hitam di atas putih mau jadi apa anak kita.
- kesimpulan dari penelitian Harvard : anak-anak yang dekat dengan ayah menjadi orang dewasa yang suka menghibur orang lain, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata, lebih pandai bergaul.
Berapa menit masing-masing anak dapat berbicara dan berinteraksi dengan ayah?
- apakah komunikasi kita tergesa-gesa? Apakah pesan sampai?
- Bagaimana gaya komunikasi kita?
Kekeliruan Dalam Komunikasi : memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, mengeritik, menyindir, menganalisa.
"Orang kalau diabaikan perasaannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak akan berharga dirinya."

2. Kita mengasuh generasi alpha
- generasi Y lahir tahun 1980-1994
- generasi z lahir tahun 1994-2009
- generasi alpha lahir 2010-2025 : mereka hidup dengan Internet, semua serba cepat, instan, biasa multiswitching (dari BBM ke kine ke FB, dll), memiliki tata nilai yang berbeda.

Ibadah, iman, akhlak letaknya di pre frontal Cortex (PFC) ➡ di dahi.
Maka mereka tidak bisa mengambil keputusan.
Kalau akademis ada di dalam otak anak.
3. beban pelajaran yang berat
4. peer presure
5. ancaman dari agama & kepercayaan lain
6. perubahan nilai dalam masyarakat kita

Untuk tantangan ini, maka Mulai dari mana untuk menyelesaikannya?
1. Selesaikan urusan dengan diri sendiri dan pasangan. Cleaning pola pengasuhan di masa lalu. Lepaskan Inner child within you.

Masing-masing harus mengenali inner child nya. Kemudian selesaikan dulu.
Bagaimana caranya ?
Ingat, Kalau bukan karena rahmat Allah maka sikapmu kasar dan hatimu keras.
Semua pengalaman yg dimiliki akan bikin otomatis kasar.

Maafin masa lalu. Minta ampun pada Allah, minta kemampuan pada Allah untuk memaafkan.

Jika perasaan dominan maka bagian berpikir tidak bisa berpikir..

Merdekain diri..

Jika itu tidak selesai..
Anda butuh profesional help. Psikolog atau psikiater.

2. Bermula dari ibu bapaknya

3. Sadari : sasaran tembak pengasuhan.

4. Kenali keunikan dan tahapan perkembangan otak anak.

5. Landasan ibadah menyenangkan.

6. Kaidah yang harus diperhatikan.

Kenapa kita harus berubah? Karena anak mengikuti role model yaitu ayah ibunya.
Kita hutang banyak banget sama anak kita.

Saat kita salah pengasuhan, maka kita berarti menabung untuk kesalahan yang sama dalam mendidik cucu kita. (Dosa dosa pengasuhan).

Bermula-lah dari ibu bapaknya!
Jadi orang tua itu harus berpartnership.

Bagaimana ngajarin anaknya sholat kalau ortu nya gak sholat.

Bagaimana bisa menyuruh anaknya sholat ke masjid kalau orang tuanya gak pernah ngajak ke masjid.

Kecintaan pada masjid itu pakai perasaan.

Bapak dan ibu harus bekerjasama.

Tujuan berkeluarga : menjadikan anak yang mencintai Allah dan BAHAGIA

Ayah penentu GBHK

Ibu2 UPT = pelaksana teknis

Perencanaan - pelaksanaan - evaluasi

Ibu siang ngajarin anakmya
Bapak malam isi kultum buat anaknya

Target per anak, anak beda2 jd masing2 anak punya kurikulum sendiri.

Pembagian kerjasama
Kita kontrol
Dasarnya musyawarah.
Bagi tugas menyampaikan

Godaan mendidik anak dr kain sarung kita (suami atau istri).

Sasaran tembak : anakku harus sholeh dulu baru pinter.
Anak2 butuh pelukan supaya jiwa tidak hampa.
Menurut penelitian, Otak baru sempurna berhubungan usia 7 th.
Tapi cortex baru nyambung ke pre frontal cortex tex usia 20th.
Tapi dalam islam usia 14-16 th

Karena islam tidak mengenal masa remaja.

Kenapa anak usia 17th bisa jd pemimpin perang.
Karena pengasuhan dalam islam.

Anda adalah rumah produksi maka hasilkanlah anak2 anda menjadi anak yg terdidik dan terpelajar termasuk cara dia beribadah.

Cara pandang harus diubah..
Buka BISA tapi SUKA beribadah.
Jangan lupa berdo'a dan tetap Semangat dan bersungguh sungguh.
"Maka bersungguh2 lah karena Allah senang dengan orang yg bersungguh-sungguh"

Sesuaikan dg kondisi anak anda..
Jangan ikut2an anak orang lain.

Landasan spiritual :
1. Qur'an hadist
2. Pendapat para nabi

Katakan kepada mukmin untuk menahan pandangan dan kemaluanmu.

Allah tau apa yg kamu kerjaan.

Landsan medis cara kerja otak

Landasan psikologis :
Kalau masih kecil sdh dibentuk
Daya ingat masih kuat belajar diwaktu kecil
Dunianya terbatas.

Usia 5-8
Ibadah bukan kewajiban, tapi perkenalan, latihan dan pembiasaan.

Kalau sudah dibilangin berkali-kali, tapi masih tetap.
Duduk diatas kursi..
Tarik napas dalam2..
Katakan = dasar memang sambungan otak belum bersambungan.. sabaaar...

Wiring menyenangkan dengan 3B (Bercerita, Bermain dan bernyanyi)

Yaitu bercerita
Karena berkisah adalah metode pembelajaran jaman rasulullah.

Anak generasi alpha mesti pakai alat peraga..
Gak bisa kalau cuma dengan ngomong.

Sifat Allah diceritakan pakai cerita.

Ngajar harus ada sabarnya karena otaknya belum bersambungan.
- Anak usia 1-5 tahun : butuh 20 tahun masa pengajaran
- anak usia 5-10 tahun : butuh 15 tahun masa pengajaran
- anak usia 10-15 tahun : butuh 10 tahun masa pengajaran.

Jadi kita identifikasi dulu anak kita udah di tahap apa, baru KENAL kah, baru TAHUkah atau sudah ke tahap SUKA

- ada anak SUKA tapi GAK MAU ibadah. Bisa jadi memang anak baru di tangga TAHU.

Contohnya sholat. Kalau ngajakin anak anak sholat,  tapi masih main main, gapapa. Karena memang tahapannya belum wajib. Tapi harus tetap dikasih tahu caranya dan dibiasakan sholat

Ngajar harus ada sabarnya karena otaknya belum bersambungan.

Jangan kehilangan momen emas 5-8.

Apa yg bolong di usia 5-8 kejar sebelum usia 14.

Jangan pernah berputus harapan dari rahmat Allah.

Tips sukses :
1. Sayang sama bunda
2. Sholat tepat waktu pergi ke masjis
3. Puasa senin kamis
4. Baca qur'an pagi sore

Semoga Allah memudahkan
Semangat Berjuang!!!

Note : Resume ini saya buat berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar pada acara seminar. Jika ada kekurangan maupun kekeliruan mohon dapat disampaikan kepada saya.


Nur Jazilah
Bintaro, Agustus 2017

Sunday, August 27, 2017

Dosa dosa Pengasuhan 

Banyak sekali hal terjadi dalam pengasuhan yang merupakan kebiasaan atau sesuatu yang otomatis, tak bisa dikendalikan dan  dilakukan berulang ulang  oleh orang tua pada anaknya.  Umumnya hal itu terjadi dalam keadaan yang terdesak, tegang, kurang waktu dan tergesa gesa.
Sebagai manusia,  kita semua  pernah berbuat salah bahkan dosa, termasuklah saya .

Dengan maksud baik dan mulia, almarhum ayah saya mengajarkan kami untuk menghormati  setiap tamu yang datang kerumah kami dengan memberi mereka makan. Tergantung datangnya : bisa sarapan pagi, makan siang atau makan malam Beliau menginginkan tamu tamu itu makan dulu baru berbincang bincang. Karenanya, kalau lama saja sedikit ayah saya akan bertanya :”Sudah siap Ma atau Elly?, boleh cepat sedikit?”
Ini terjadi berpuluh tahun, maka sudah jadi kebiasaan pula bagi kami sekeluarga untuk menawarkan atau sudah langsung menyiapkan makan untuk tetamu kami bila waktu makan tiba, yah seadanya..

Air pancuran jatuhnya ke pelimbahan juga

Seiring  dengan  kebiasaan tersebut, maka jadi terbiasa pulalah saya mengatakan : “Cepat sedikit!” pada anak anak saya. Nah, setelah punya cucu, tak terelakkan saya menyaksikan bagaimana anak anak saya sering mengucapkan hal yang sama dalam cara yang berbeda pada anak anaknya. Terutama itu tadi, kalau buru buru, sudah telat  dan situasi lain yang serupa.
Inilah yang saya sebutkan bahwa:  Pengasuhan itu di turun temurunkan .
Masalahnya  masing masing keluarga mempunyai kebiasaan sendiri dan aturan serta harapan yang juga berbeda. Umumnya orang tidak menyadari bahwa kebiasaan pengasuhan  yang dilakukannya sehari hari  merupakan pengulangan dari bagaimana dulu dia diasuh.  Hanya orang orang yang  sungguh sungguh sadar ada yang salah dengan cara pengasuhannya dulu dan  sudah  sepenuhnya dirasakanya dampak tidak baik dari cara pengasuhan tersebut, yang berjuang  untuk tidak melakukan hal yang serupa.
Jadi anak yang dibesarkan dengan tenang, kata kata yang baik dan suara yang lembut  serta perlakuan yang respek, semua tertib dan teratur , akan menjadi orang tua yang sama pula bagi anak anaknya .Ringkasnya, anak yang dibesarkan dengan cubitan akan mencubit, dan yang biasa dengan pukulan akan menampar.
Saya punya sejuta cerita rasanya untuk dikisahkan…
Orang tua yang sangat mementingkan prestasi akademis anaknya, sehingga mengizinkan anaknya tidak memenuhi apapun tugas nya dirumah asal belajar dan les, akan memperlakukan anaknya serupa. Di keluarga itu pasti sering terdengar :’Ya sudah kalau yang kamu kerjakan itu belum selesai2 juga, tinggalin aja, nanti mama  atau mbak Ilah yang ngerjain. Sana! selesaikan dulu pe-er dan tugas tugasmu!”

Hal apa yang dampaknya paling buruk?

Temuan dari penelitian yang bertahun tahun kami lakukan,  menunjukkan bahwa cara pengasuhan yang berdampak sangat jauh dan dalam adalah: Ngomong dan sikap, termasuk bahasa tubuh  orang tua..
Saya teringat benar akan pepatah :”Mulut kamu harimau kamu!” Betapa kata kata bisa akan memangsa kita kembali.
Anak sudah berjuang belajar demi memenuhi harapan orang tua, eh sudah ranking bahkan ada yang lulus ‘cumlaude’, tetap kurang dapat penghargaan. Dianggap sesuatu yang biasa atau “sudah semestinya!”, boro boro diberi hadiah, pelukan saja tinggal  mimpi..
Banyak sekali saya menemukan bagaimana anak anak ini ketika dewasa kalau bisa pergi secepatnya dari rumah orang tuanya, sekolah kek, kawin kek.. pokoknya  menjauh dari orangtua kandung sendiri. Ketika sudah berkeluarga mereka  merasa tidak nyaman atau sudah ketakutan  jauh sebelum orangtua nya datang  mengunjunginya.Belum lagi  super ketakutan kalau ortunya tersebut mengulang pula cara pengasuhannya pada anak anak mereka, yg notabene cucu cucu kandung  ibu bapaknya
Kedengaran tidak sopan,tidak berbakti atau  tidak tahu diri? Tapi itulah kenyataannya.
Seorang sahabat datang bertandang kerumah kami  beberapa hari yang lalu. Kami mengenal menantu bahkan besannya.Dia menceritakan bagaimana terkejutnya dia menemukan menantu laki lakinya ini bukan saja sangat dekat tapi juga manja sekali dengan ibu mertuanya. Suatu hari mereka mendapat kiriman foto bahwa besan perempuan mereka dirawat di RS. Heran, dia bertanya kemenantunya kenapa tidak  memberi tahu dan apakah menantunya ini sudah menengok ibunya? Sahabat kami ini sangat terkejut ketika mengetahui bahwa menantunya bukan saja tidak mau mengabari mertuanya tapi juga tidak mau melihat ibunya yang sakit!. Astagfirullah! . Ternyata, menantunya ini mengatakan bahwa dia tidak dekat dengan ibunya, karena ibunya  selalu”ngomel”, bawaannya “salah mulu” kebanyakan nasihatin dan bukan saja miskin pujian tapi juga senyum!. “Mukanya bête aja”  jelas menantunya. Apa yang terjadi berikutnya?, demi mengajarkan menantunya ini, sang mertua mengantarkan dan menemaninya untuk menengok ibunya sendiri.
Banyak sekali pasangan tidak bahagia, bahkan sampai kecucu menderita, karena dosa dosa pengasuhan ini.

Jadi bagaimana dong ?

Sekarang tantangan pengasuhan luar biasa, semakin hari semakin meningkat saja bahayanya. Dari buku sekolah yang mengandung unsur porno, kejahatan seksual dimana mana, tontonan, permainan dan lagu anak yang penuh hal buruk, narkoba terus menerus ditemukan dalam jumlah besar tapi kita tidak pernah dengar bagaimana akhirnya, dan ancaman pornografi diujung jemari anak kita yang mengganggu fungsi otaknya tanpa diawali dengan pengaruh terhadap prestasi akademisnya!
Alih alih menjauhkan anak dari berbagai pengaruh buruk dan jahat tersebut, kita bisa membuat mereka menjadikannya sebagai “pintu exit” dari situasi buram, gak nyaman dan menekan dari dalam rumah, kalau kita menurun temurunkan kan dosa dosa  pengasuhan  tanpa sengaja.
Saya mengajak diri saya dan anda orang tua terpelajar yang baik hati untuk mengenali dan kemudian meotong kebiasaan2 buruk  dalam pengasuhan yang kita lakukan sehari hari.
Yuk kita sadari, jangan jangan ortu kita juga mewarisinya dari situasi yang tidak nyaman dulu dirumah beliau. Semua kan sudah berlalu, bahkan berpuluh tahun yang lalu. Jangan kan kita mampu mengendalikannya, tahu  apa yang jadi  penyebabnya saja tidak!
Paling gampang, yuk menerimanya sebagai kenyataan, lalu maafkan, minta ampunkan pada Allah, bicara selalu positif  pada otak kita, dan mulailah ngomong dengan senyum terlebih dahulu. Senyum membantu untuk bikin relaks, Kalau lagi marah banget ya tarik nafas dua – tiga kali, tersenyum baru bicara.
Enak diomongin gak enak di kerjain, pasti anda bilang begitu. Ya iyalah, tapi  ‘worth it’ untuk dicoba. Ngapain yang jelek jelek tetap disimpan iya khan, apa gunanya.
Nah selanjutnya, kalau lagi sendiri banyak banyaklah istigfar dan bayangkan anda membuang semua kebiasan lama tersebut sambil berulang ulang bilang sama diri sendiri : Aku harus merdeka, jiwaku merdeka dan pikiranku merdeka!
Hidup udah susah, jangan di susah susahin lagi
Selamat menyambut hidup yang lebih ringan  dan bahagia untuk melahirkan generasi yang lebih bahagia!.
Luv u all

Bekasi  30 Juli 207
Elly Risman
#Parentingeradigital

Silahkan share bila bila dinilai bermanfaat

Sunday, August 13, 2017

Komunikasi suami istri

Umum sekali terjadi, tak lama setelah perkawinan suami istri baru ini sudah   mulai menemukan bahwa komunikasi  antar mereka berdua, jadi tidak selancar, sehangat apalagi seindah ketika dulu pacaran atau sebelum menikah.
Sekarang, ada saja yang gak nyambung, emosi naik, kadang diam, tak biasa dimengerti dan seolah tak ada keinginan untuk mengerti. Dulu, kalau begini salah satu pasti tidak akan pernah berhenti membujuk, sampai salah satunya mengalah dan komunikasi tersambung kembali.

Kenapa sudah kawin malah jadi sebaliknya?
Harapan dan mimpi indah yang dulu dibagi bersama dan menimbulkan semangat, kini seolah menguap begitu saja . Kenyataan yang ada sangat mencengangkan karena banyak hal yang dulu tidak diketahui kini menjadi jelas merupakan kebiasaan yang kurang pas dan kurang menyenangkan bagi pasangannya. Mulai dari  kalau ngomong kurang diperhatiin, mau menang sendiri,kebiasaan yang tidak sama : naruh handuk basah diatas tempat tidur, suami merasa  kurang dilayani, istri merasa kurang didengarkan perasaannya dan sejuta perbedaan lainnya yang terus menerus terjadi dari hari ke hari….

Mengapa semua ini terjadi ?

1.Hidup lebih realistis, kebiasaan dan sikap  asli masing masing     nampak  dan tak perlu dipoles dan disembunyikan lagi.  Cara ekspresi emosi juga otomatis nampak : marah, menghakimi, selfish, narcist, mencap, dll.

2. Dari pengalaman saya menghadapi berbagai kasus keluarga dan perceraian, ketika pasangan ini  belum menikah, mereka tidak mengetahui atau diberi tahu bahwa masing masing harus mempelajari latar belakang pengasuhan pasangannya dan  mengapa perlu tahu.. Yang paling buruk adalah kenyataan bahwa masing masing pasangan  tersebut bahkan tidak cukup kenal dengan dirinya sendiri!.

3.Tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menciptakan laki laki dan perempuan itu berbeda : Otaknya, hormon2nya, alat kelamin, ratio otot daging, kapasitas paru paru dlsbnya

4.Tidak memiliki ketrampilan bicara yang benar, baik dan menyenangkan  serta

5.Kurang memiliki ketrampilan mendengar, sehingga

6.Tak mampu berkomunikasi yang baik, bersih dan jelas.

         Apa akibatnya?

Masing masing seperti terperangkap dalam diri sendiri. Bagaimana  jalan keluarnya?. Mana bisa kita ceritakan sama ortu?  Sudahlah beliau capek mendidik kita, menyekolahkan, mengawinkan.. masak  masalah kita, kita bawa juga ke mereka. Kawin di jodohkan saja tidak mudah kita adukan apalagi ini pilihan kita sendiri. Tangan mencincang bahu memikullah. Kalau diceritakan ke orang lain, aib hukumnya. Menceritakan kekurangan atau kejelekan  pasangan, bisa bisa gak dapat mencium wanginya syurga!.

Jadi terasa seperti api dalam sekam,  panas terus tapi jangankan ada pintu atau jalan keluar , asap saja tak bisa  dihembuskan . Ini yang membuat kadang kadang semangat redup karena hati luka – merasa terkunci di hati sendiri , sulit ditemukan apalagi  diberi pertolongan!

Harapan timbul tenggelam, ah.. siapa tahu nanti membaik. Siapa tahu  kalau anak sudah lahir, siapa tahu kalau ada adiknya pula.. siapa tahu…..

        Apa yang terjadi  selanjutnya ?

Kebutuhan semakin  beda, marah mencuat, bersitegang – bertengkar, saling: merendahkan, menyalahkan, menjelek-jelekan & menjatuhkan saling menuduh,  menghakimi, mencap,  bahkan sampai menyebut nyebut orang tua. Akhirnya saling diam diam-an, bicara seperlunya saja semuanya membuat semakin sunyi di hati.
Sudah jelas dalam keadaan seperti ini  sulit bagi masig masing pasangan untuk  menunjukkan pengertian, pengakuan apalagi pujian!.
Satu tempat tidur  tapi seperti  beda planet ! Berpapasan dipintu  berusaha jangan senggolan, beradu kaki ditarik buru2. Kamar sering sekali sunyi, masing masing dengan aktifitas sendiri sendiri. Tapi hati semakin luka, semakin perih.

Kalau ada tamu : standard ganda. Saling menyebut  dan menyapa, seolah tidak terjadi apa apa : “iya begitu kan ya ma/pa?” hahahaha. Begitu tamu pulang , sunyi dan senyap kembali…
Kebutuhan untuk diterima dan didengarkan tetap ada pada masing masing, sebagai kebutuhan dasar agar tetap jadi manusia, mulailah  terjadi perselingkuhan atau punya teman curhat  yang biasanya berujung   maksiat atau kawin lagi. Yang popular sekarang adalah BINOR (Bini Orang) atau LAKOR ( Laki Orang) , yaitu selingkuh dengan teman sekerja, sekantor atau lain kantor atau teman SMP dan SMA dulu. Semua dijaga ;Tahu sama Tahu. Kalau hamil kan punya suami!. Yang paling buruk adalah selingkuh sejenis, seperti yang sering dibicarakan akhir akhir ini .. Yang jelas kebutuhan jiwa dapat , material apalagi!

Bayangkan bagaimana bermasalah anak anak yang tumbuh dalam keluarga seperti ini ? sudahlah mungkin rezeki tidak halal dan thayyib ortunya berbuat maksiat pula.
Banyak sekali orang tidak tahu, memang belum ada penelitiannya, bahwa bila seorang ayah atau ibu melakukan maksiat, pasangannya bisa dikelabuinya tapi tidak Allah dan anaknya!. Pengalaman saya menunjukkan bahwa anak yang tadi manis patuh dan berkelakuan baik, bisa tiba tiba gelisah, temper tantrum, tak bisa mengendalikan diri, marah, ngamuk dlsbnya.. bila secara diam diam salah satu ortunya berzina!.  Bayangkan, berapa banyak sekarang pasangan melakukan hal itu dan hubungkan dengan keresahan jiwa dan kenakalan remaja.
Dalam iklim psikologis dirumah  yang buruk sekali itulah  anak tumbuh dan berkembang. Bayangkanlah dampak  bagi perkembangan kejiwaan, emosi, kecerdasan,  social dan spititualnya!

        Jadi, bagimana sebaiknya ?

Pertama harus disadari benar bahwa  komunikasi pasangan ini sangat penting  karena  ia mencerminkan Iklim rumah: fondasi keluarga, kesehatan pribadi, kesehatan anggota keluarga, cerminan: kekuatan, kelemahan & kesulitan perkawinan dan Kelanjutan  serta kepuasan hidup!.
Intinya, kalau suami usia masih  muda sudah sakit sakitan jangan jangan ada masalah besar dengan istrinya. Sebaliknya, bila istri masih muda sakit sakitan, jangan jangan suaminya bermasalah!.

Untuk itu, kenalilah masa lalu masing masing pasangan. Apa  dan pengasuhan yang bagaimana yang membuatnya seperti sekarang ini yang kita uraikan diatas. Perjodohan adalah sebagian dari iman, karena tidak akan berjodoh anda dengan pasangan anda kecuali dengan izin Allah. Jangan mudah menceraikan atau minta cerai, karena itu adalah pekerjaan halal  yang dibenci Allah. Perkawinan adalah perjanjian yang sangat kokoh : “Mitsaqan Galidha”. Allah lebih tahu, dari yang anda rasa dan fikir kurang atau  buruk, disitu banyak kelebihan dan kebaikan menurut Allah.

Tapi karena kita kurang waspada dan menyadari  bahwa syaithan tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan perkawinan, seperti yang dilakukannya terhadap nabi Adam dan ibu Hawa, maka kita akan terkurung dalam penilaian dan pemikiran yang buruk saja tentang pasangan kita.
Jadi, berusahalah untuk meningkatkan keimanan, mintalah pertolongan Allah agar dibukakan mata hati kita untuk :Bersyukur, menerima ketentuan Allah, bersangka  baik,  melihat kelebihan lebih banyak dari kekurangan, menemukan ‘Inner child” pasangan dan berusaha memaklumi dan perlahan merubahnya.
Kesulitan utama yang banyak dihadapi orang adalah karena dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia sendiri memiliki ‘inner child” yang parah dan terperangkap disitu. Dia sendiri melimpah, sehingga bagaimana mungkin menolong pasangannya . Dalam situasi seperti ini pasangan ini memerlukan  pertolongan ahli, bahkan mungkin butuh terapi. Bila hal ini tidak segera dilakukan, penderitaan keduanya  bisa berkepanjangan karena yang jadi korban adalah harapan satu satunya dimasa depan yaitu : anak anak mereka ! .

Selanjutnya adalah menyadari bahwa Allah menciptakan otak kita ini berbeda. Jadi pelajarilah akibat perbedaan ini lewat syeikh Google atau mbah Wiki, dan apa dampanya pada salah pengertian dan salah harapan antara suami dan istri.

Langkah berikutnya untuk memperbaiki komunikasi adalah belajar menjadi “Pendengar” yang baik. Memang tidak mudah, karena kita dari kecil diajarkan untuk  bicara dan bicara: lewat lomba pidato, story telling, debat dlsbnya. Tapi tidak ada lomba mendengar!.

       Mendengar yang baik ada kiatnya :

1.Hindari  penghalang mendengar, yaitu : Lebih mudah membuat jarak dengan pasangan, malas komunikasi, kalau ngomong bukannya dengar tapi memikirkan jawaban, menyaring tanda-tanda bahaya dalam percakapan, mengumpulkan data-data untuk       mengutarakan pendapat dan memberikan penilaian  terhadap apa yang di kemukakan oleh pasangan.

2.Berusahalah mendengar yang benar dengan :
Bukan hanya diam di depan pasangan yang sedang bicara tapi cari tahu (tanpa “baca pikiran”) apa yang dimaksudkan, dikatakan dan dilakukan pasangan . Tunjukkan  kita mengerti pasangan, sehingga hubungan terasa jadi lebih dekat, bisa menikmati kebersamaan, menciptakan dan melanggengkan keintiman.

3.Mendengar yang benar membutuhkan COMMITMENT & COMPLIMENT.

Commitment/ kesepakatan dengan diri kita sendiri  artinya  dalam mendengar kita berusaha untuk: Mengerti, Memahami, Menyisihkan minat dan kebutuhan pribadi , Menjauhkan prasangka dan berusaha  untuk Belajar melihat dari sudut pandangan pasangan
Sedangkan Compliment /hadiah adalah  menunjukkan pada pasangan bahwa “Saya peduli kamu, sanggup anda, Saya ingin tahu apa yang kau pikir atau  apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu butuhkan”.

Semua ini memang tidak gampang tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Cobalah sedikit sedikit asal  jangan anda  menyerah dan kembali ke pola komuniasi  yang semula.

Mungkin yang  penting sekali  untuk anda ingat :

Kalau ada kerikil dalam sepatu, terasa menganggu dipakai berjalan, buka sepatunya  buang kerikilnya, bukan sepatunya yang anda ganti. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk anda!.

Yakin bahwa anda bisa. Pasti bisa!!

Bekasi, 19  September 2016.

 #Elly Risman.

Bila  anda rasa tulisan ini bermanfaat, tak perlu minta izin silahkan share sebanyak yang anda bisa. Semoga ada manfaatnya .

Thursday, August 10, 2017

“Jangan bikin ayah bunda marah ya !”

Berapa sering sudah selama anda menjadi ibu atau ayah anda mengucapkan kata kata seperti diatas kepada anak anda?
sejak dia berusia  berapa?.
Iya , kalau anak anda satu bagimana kalau lebih?. Apakah  masing masing mereka juga pernah menerima kalimat diatas dan sudah berapa kali?..

Pernahkah anda bertanya pada diri sendiri sebagai orang tua, mengapa anda mudah sekali marah ? Bahkan kadang untuk hal hal yang sepele dilakukan anak atau bahkan untuk perilakunya yang  karena usianya dia belum tahu bahwa itu merupakan sesuatu  yang salah.
Bukankah seringkali  juga ayah dan bunda sudah langsung naik marahnya semata mata karena anak tidak mendengar apa yang diucapkan, disuruh, dilarang oleh orang tuanya atau karena sekedar  bertanya terus menerus?!.

Banyak hal memang yang bisa menjadi penyebab seseorang bisa marah : Capek, kurang tidur, banyak pikiran, lapar, kesal sama pasangan dan orang lain disekitar tetapi tak bisa di keluarkan, waktu terbatas tapi banyak hal harus diselesaikan/buru buru, stress, merasa terganggu  dan beribu hal lainnya.
Tapi, kalau  kemarahan anda itu begitu otomatis, sangat mudah dan polanya sama, misalnya : bila anak anda sebutlah “nakal” ( yang maknanya juga bisa seribu  juga tergantung definisi  dari masing masing orang tua) dan anda langsung serta SELALU menunjukkan nya dalam bentuk : mencubit, berteriak, memukul atau berkata kasar, maka  anda HARUS MENYELAM kedalam diri anda dan  MENGEMBARA kemasa lalu anda : Ada apa  dengan anda mengapa anda bereaksi  seperti itu.
Apa yang anda perlu lakukan terlebih dahulu adalah menemukan penyebab utama dari masa lalu tersebut. Anda juga harus bekerja sama dengan pasangan dan berusaha saling menemukan penyebab utamanya dan berusaha menyelesaikannya dengan : Menerima , memaafkan dan kemudian pelan pelan mengendalikannya.
Banyak sekali  orang tua tidak menyadari sebab utama dari mereka marah, dan mengeluarkannya dalam bentuk tertentu kemarahannya secara terus menerus.

Jadi : Siapa sebenarnya yang mengontrol dan  yang di kontrol?
Kalau setiap kali anda mengatakan :
“Jangan bikin ayah atau mama marah ya, kamu gak tahan nanti!”    atau “kamu gak tahu apa yang akan terjadi!”  atau berbagai bentuk kalimat yang sama.
Sebetulnya sadarkah kita apa yang sebenarnya yang sedang kita lakukan?.
Bukankah kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita  “menyerahkan kendali emosi kita  kepada orang lain disekeliling kita, dalam hal ini anak kita sendiri? Mengapa  kita jadikan dia  yang memegang ‘Remote control’ nya emosi kita ? Berapa umurnya?” Dia kan anak anak anak yang mungkin otaknya  saja belum bersambungan.
Bukankah  bagi kita orang dewasa reaksi emosional kita  tergantung pada kita? Selalu ada pilihan yang bebas untuk kita lakukan.
Kalau kita menyerahkannya kepada anak anak  tidakkah itu kita sebenarnya sama sama anak anaknya dengan anak kita ?                                                                                                                                    

Jangan jangan  itulah yang merupakan salah satu sebab , mengapa ketika kita marah, kita tidak sadar apa yang terjadi, dan baru sadar setelah semua itu berlangsung baru kita jadi menyesal dan tidak jarang menangisinya. Tapi bukankah kemudian  kejadian serupa terulang lagi ?

Kemampuan bertanggung jawab  terhadap  aksi atau perilaku kita sesungguhnya  menunjukkan tingkat kematangan  diri.
Menjadi pemilik dari kesalahan  diri sendiri tanpa melemparnya  atau menyalahkan orang lain, situasi yang ada  bahkan masa kecil itulah KEDEWASAAN!.
Menjadi dewasa  adalah  tahap yang paling dasar  untuk  meraih  kemampuan untuk mengontrol diri sendiri. Belajar untuk mengendalikan diri  berarti kita berusaha bertanggung jawab terhadap keputusan kita sebelum , selama dan sesudah kita melakukan sesuatu. Ini membantu  kita untuk mengenali bahwa  tidak seorangpun bahkan anak kita  bisa  membuat kita merasakan, berfikir dan melakukan  “sesuatu”!.
Pantaskah  bila kita biarkan  anak kita membuat kita terpojok, menekan tombol kesabaran dan mendorong kita melakukan sesuatu yang salah? . Kenyataannya  mereka kan tidak segitunya “berkuasa” khan?
Bayangkanlah apa jadinya dengan anak kita bila keadaan  seperti ini berlangsung terus,  dimana anak sejak usia dini yang memegang kendali emosi orang tuanya?. Bagaimana anak ini nanti kalau sudah lebih besar dan bagaimana pulalah masa tua ayah ibunya?  

Jadi, bagaimana dong sebaiknya ?

1. Memang tidak semua orang tua marah pada anaknya, tapi pada umumnya semua kita mengalami “perjuangan” membesarkan dan mengasuh anak. Kita umumnya cemas dan kawatir bagaimana nanti “jadinya”anak kita. Hal ini membuat kita tak sengaja terlalu fokus pada anak sehingga lupa, bila sudah terlalu kawatir kita jadi kurang memperhatikan diri kita sendiri dan hilang kendali emosi.

2. Tolong jangan HANYA fokus pada anak, tapi fokus pada diri anda sendiri dulu.  Seperti kita mengantar kan anak kesekolah dengan kendaraan: mobilkah atau motor, siapa yang mengendalikan kendaraan? anak atau kita?. Begitulah seharusnya . Jadi  selesaikan dulu urusan dengan diri sendiri.

3. Berjuanglah untuk tetap memiliki kendali atas pikiran dan perasaan kita sebagai orang tua. Marah bukan tidak boleh, tetapi bila keseringan dan merupakan kebiasaan untuk berespons terhadap anak  akan berakibat tidak  baik bukan hanya bagi hubungan ortu anak tetapi juga terhadap “well being” nya. Karena  marah  tidak menyelesaikan masalah apalagi disertai kata kata yang tajam, bentakan dan hukuman fisik.

4. Mengendalikan diri dari marah juga harus dengan ilmu. Bahwa perubahan pertama yang dilakukan adalah terhadap diri sendiri. Kemudian harus meningkatkan ilmu agama selain dari ilmu pengasuhan. Pastilah dalam agama kita masing masing ada ketentuan  dan aturan tentang mengendalikan  marah sebagai salah satu sifat yang diciptakan ada dalam diri kita. Kalau tidak, kita tak akan berperang dengan diri sendiri dan dengan sekeliling kita bila kesalahan, kedhaliman , kemungkaran terjadi.

Dalam Islam, bila seseorang marah dia  hendaknya  menahan  amarahnya  dan memaafkan (3:134 ; 42: 37). bahkan dalam surah At Thagabun disebutkan bahwa : Wahai orang orang yang beriman, Sesungguhnya diantara istri istrimu dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.Maka berhati hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan, jangan marah serta ampuni mereka maka sungguh Allah Maha Pengeampun Maha Penyayang.

Bagaimana kita mampu melakukan semua itu : Memaafkan, tidak marah dan mengampunkan kalau kita tidak bisa mengendalikan diri kita sendiri?
Kalau hubungan ortu anak didasarkan dengan banyak marah dan teriak maka akan jadi bagaimanalah   hubungan tersebut nantinya.

Allah maha Tahu akan apa yang Dia ciptakan. Mengapa kita harus maafkan anak kita dan sebaiknya tidak marah ? Kan otaknya belum bersambungan? Mereka membutuhkan :dikasih tahu tentang  banyak hal : baik buruk , salah benar, boleh tidak boleh, halal dan haram  dll. Untuk itu mereka  sangat membutuhkan bimbingan, arahan  yang penuh kasih sayang. Bukan Marah dan teriakan !.

Rasulullah saw dimintai wasiat yang singkat dan padat oleh seorang sahabat : Jariyah bin Qudamah ra .Rasulullah mengatakan: “Engkau Jangan marah!” (HR Buchari)
Hadist lain Rasulullah mengajarkan bila seorang marah hendaknya dia DIAM, sehingga terhindar dari mengeluarkan kata kata yang tidak  patut dan keji.

Karena marah adalah  bara yang dilemparkan syaithan  kedalam hati anak Adam sehingga  ia mudah emosi,dadanya membara,urat syraf menegang, wajah memerah dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.

Rasulullah juga bersabda : Kalau seseorang marah dalam keadaan berdiri, maka sebaiknya dia duduk.Bila masih marah :berbaring. Bila masih marah juga  sebaiknya di berwudhu.
Cara lain yang dianjurkan Rasulullah adalah mengucapkan : A’u dzubillahi minasyaithanir rajim…

Jadi kita  telah diajarkan berbagai cara untuk mengendalikan diri kita dari amarah dan juga telah  telah diberi tahu “ ganjarannya” yaitu sabda Rasulullah :
a. Jangan kamu marah maka kamu akan masuk syurga”
b. Barangsiapa menahan amarah, padahal dia mampu melakukannya, maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya dihadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.

Masih mau marah juga ? ya Ampuuun!!!

Jadi  teman teman, perjuangan terbesar kita bukanlah bagaimana menghadapi   dan membatasi anak kita dari pengaruh buruk TV, Internet, Pornografi,Miras dan Narkoba dan pergaulan bebas, tapi perjuangan  mengatasi reaksi emosi kita sendiri!

Kalau kita ingin berpengaruh terhadap anak kita, Kontrol reaksi emosi!. Kita harus yaqqin bahwa kita  bisa kok memilih reaksi emosi mana yang akan kita tunjukkan.

Pengasuhan adalah bisnis yang TIDAK BOLEH GAGAL!.

Kalau anda sudah kepenuhan dan sangat lelah, ini tips yang paling mudah : Duduklah bersandar, ingat anjuran Rasulullah untuk diam. Pandang anak anda dengan kasih, tarik nafas panjang dan dalam lalu hembuskan. Lakukan beberapa kali sambil  katakan dalam hati anda: “Benar benar yah nih anaakkkkk… otaknya  belum sempurna bersambungan!!”                                                                              
Senyummm…...
Senyum,  kata seorag ahli, membuat  otot pipi berkerut, menghentikan aliran oksigen dari pembuluh darah yang satu ke pembuluh darah berikutnya, sehingga menyebabkan batang otak menjadi dingin dan kondisi itu memproduksi  serotonin. Seretonin anti agresivitas…
Jadi  gak mungkin sambil tersenyum anda menghampiri anak anda mencubit, memarahi atau membentaknya . iya khan?

Selamat berjuang mengatasi reaksi emosi yang negatif dan berhentilah bilang :”Jangan sampe bikin ayah/mama marah ya !” dengan wajah berang dan mata melotot….

Bekasi, dini hari 30 Januari, 2017
Elly Risman
#Parenting eradigital
Silahkan share bila perlu

Tuesday, August 8, 2017

Bijak Menghadapi Tantangan Pengasuhan sehari hari

Bijak menghadapi :Tantangan pengasuhan sehari hari

Kali ini saya ingin mengajak anda para orangtua pembelajar untuk bersama menengok keseharian anak kita, dan kemudian untuk mengenali tantangan pengasuhan sehari  hari dimana kita bergulat untuk membentuk anak anak kita menjadi  anak anak yang seperti  diperintahkan Allah yaitu anak anak yang utamanya  menjadi  penyembah Allah – Li ya’buduun.

“ Berapa usia anak anak anda kelas berapa mereka sekarang ?”
Saya ambillah contoh anak SD kelas rendah dulu, yaitu kelas -3. Dari sini nanti kita dengan mudah menaikan jejangnya dan juga memahami kemajemukan masalah yang kita hadapi sehari hari..
Mengenai jadwal ini sangat bergantung aturan di masing masing keluarga, jam masuk sekolah, jarak tempuh dan Kalau mau anak diajar dan dilatihkan sholat shubuh  tepat waktu, berarti kita sudah coba membangunkan anak 10’ – 15’sebelum waktu sholat tiba, sekitar 03.50 atau pukul 04.00.
Kita buatlah jadwalnya sebagai berikut :
03.50 – 04.05  Bangun, siapa siap utk sholat
04.10 – 04.25  Sholat subuh,  baca Qur’an atau bahas  hal hal agama yg lainnya
4.25  - 6.30     Mandi siap siap, membantu tugas RT lainnya , sarapan . Mengulang pelajaran atau mengerjakan tugas RT atau bantu ibu atau  bercengkrama dengan keluarga.
6.30 – 7.00      Berangkat sekolah
07.00 – 13.30 Disekolah
 13.30 -  14.30 Pulang sekolah, sampai dirumah. Sangat tergantung jarak rumah – sekolah  dan macet tidaknya jalan dan kendaraan yang digunakan.
Ini kurang lebih jadwal untuk kelas rendah. Semakin tinggi  kelas anak semakin sore tibanya di rumah. Anak kelas 4-6 biasanya sampai dirumah berkisar atara jam 4- 5. Sementara anak SMP  biasa sampai dirumah  magrib atau bahkan  malam hari. Apalagi  kalau  ada tugas berkelompok  atau les tambahan . Riset kami menujukkan bahwa umumnya anak anak SD akan les 2-3 hari dalam seminggu, sementara anak SMP  akan les lebih banyak hampir 5-6 hari dalam seminggu.
Orang tua yang terlalu cemas akan banyak hal dalam keberhasilam akademis anaknya dimasa depan  atau yang terlalu sibuk sehingga sulit untuk punya waktu dengan anaknya akan mengatur jadwal les yang padat. Alasannya  dari pada waktu digunakan tidak menentu lebih baik anaknya ikut ber macam macam les.

Marilah kita sadari berapa padatnya otak anak dengan berbagai tugas tersebut, berapa lelah jiwanya dan jerih badannya. Dini hari besoknya, dia akan menghadapi lagi hal yang sama. Terus dan terus dan terus…
Sudah lah capek, umumnya orang tua tak sanggup menerima bahasa tubuh yang menunjukkan kelelahan dan sikap yang agak malas malasan dan lama dalam menyelesaikan sesuatu yang disuruh. Apa lagi kalau berkilah, membantah, memprotes, berkata dengan nada tinggi, menolak melakukan atau  mengerjakan sesuatu.
Wah bayangkanlah reaksi orang tua, apalagi  mereka yang tadi seharian sudah habis tenaga dan emosinya terkuras diluar rumah, lepas dia bekerja atau sekedar aktifitas ‘killing time “saja.Memukul mungkin tak sembarang orang, tapi  apa kabar dengan kata kata ?
Banyak yang tidak faham bahwa kata kata yang tajam walau dalam nada rendah menusuk kedalam jiwa, “verbal abuse” namanya. Kalau perasaan diabaikan bahkan di”iris dan dihunjam” juga atas nama kepuasan emosi ibu dan ayahnya, “emosional abuse” istilahnya.

Bagaimana anak  tidak menumpuk lapisan emosi yang tinggi dalam dadanya yang sekali  meledak bak air bah yang bobol tanggulnya.
Lupa, hal ini sudah berlangsung lama, sejak usia 6-7 tahun, atau mungkin lebih muda. Tak disadari  hari telah berganti minggu , minggu berganti bulan. Bulan terlah beralih tahun dan tahun dan tahun….
Siapa yang mengerti beratnya beban fikir dan jiwa anak?. Dengan dalih masa depan yang masih sekitar 15 – 20 tahun lagi itu, sejak muda usia anak di pacu dan  di dera untuk mempertahankan prestasinya sekuat yang dia bisa.. Bukan hanya badan, banyak yang tidak faham betapa jiwa anak dan remaja kita ini pun tak sempat bernafas.
Anda mungkin tidak percaya, bahwa 7 dari 15 pemerkosa Yuyun yg sempat saya temui bersama dengan dr Dewi Inong di penjara, menyatakan bahwa mereka menyimpan dendam pada ibunya: karena kata kata yang mereka terima terlalu menusukjiwa!.

Apa yang hilang  dari pengasuhan ?

Banyak!.
1. Yang pertama adalah hilangnya  kehangatan, kebersamaan dan
     keceriaan anak anak dan remaja.
2.  Cinta Belajar. Beban pelajaran dan waktu belajar yang padat kita kawatirkan telah mencederai semangat belajarnya. Mereka masih akan belajar belasan tahun lagi. Kalau sekarang sudah “bantat” karena lelah jiwa, dari mana akan diperolehnya semangat dan kecintaan menuntut ilmu dan  untuk menyelesaikannya sampai jenjang yang tinggi?
3. Yang paling mahal yang hilang bila tak pandai pandai mensiasati adalah Dialog. Karena waktu yang sempit,pola bicara hanya perintah larangan dan komentar. Bagaimana akan menyampaikan pesan, membentuk kebiasan baik, menambah pengetahuan, memperluas wawasan dan yang paling penting bagaimana bisa mengetahui kebutuhan utama anak dan mendengar dan memahami perasaannya?
Percakapan berpusar hanya pada masalah akademik semata.
4. Banyak hal hal esensial yang harusnya dibahas diajarkan pada anak jadi tak kebagian waktu, apalagi kalau kedua orang tua sibuk : Berbagai aspek dalam penanaman aqidah yang lurus, ibadah yang benar ,amalan yg shalih dan akhlak mulia serta berbagai kisah kenabian dan para sahabat yang mulia tak sempat dilakukan.
5. Hal lainnya yang umumnya  sungguh terabaikan adalah persiapan pra baligh dan keharusan bijak berteknologi.

Apa yang terjadi ?

Tanpa terasa oleh karena jadwal yang padat dan ortu yang sibuk, tahu tahu   anak sudah pra remaja. Mereka sudah “ sexually active” sementara persiapan  untuk baligh  jauh dari  memadai. Anak  kurang memiliki  berbagai pengetahuan dan ketrampilan hidup, padahal mereka adalah generasi Platinum yang hidup di era digital. Tiba tiba terasa kita memiliki banyak sekali masalah.
Karena beratnya beban hari hari yang dihadapi anak, mereka mencari kesenangan dengan atau melalui handphone, laptopnya, games dan berbagai fasilitas technology lainnya. Anak terpapar pada berbagai bentuk kriminalitas, narkoba, perjudian, berbagai bentuk kenakalan remaja lewat sosial media dan tentunya pornografi yang sudah sering sekali kita bahas di grup ini.
Kita menghadapi berbagai masalah perilaku yang luar biasa rumitnya, tak meyadari sebab musababnya karena merasa semua berjalan seperti biasanya dan kini  bingung mencari solusinya.

Bagaimana sebaiknya ?

Berikut  sekedar usulan saya  bagaimana menghindari bila belum terjadi dan mengatasinya bila sudah terlanjur tidak sengaja.

1.Cukupkanlah kehangatan anak  dan kelengketan jiwa ke jiwa dengan kedua orang tuanya . Penuhi bejana jiwa anak kita pada saat dia butuhkan dalam jumlah yang cukup oleh kedua orangtuanya.
2.Riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa pasangan muda  lupa  merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan anak anaknya Kacaunya arah  pengasuhan anak adalah karena orang tua lupa merumuskan Tujuan Pengasuha dengan rinci, bukan hal hal yang umum dan  generik seperti  : Menjadikan anak shalih dan shaliha saja.
Ada tujuh Tujuan Pengasuhan yang kami sarankan berdasarkan riset kami .
1. Menjadi hamba Allah yang Taqwa, Imannya lurus, ibadahnya
        benar dan baik serta akhlak nya mulia.
2. Diasuh dan disiapkan untuk menjadi calon suami dan istri
3.  Dipersiapkan untuk menjadi ayah dan ibu
4. Dididik untuk menjadi ahli dalam bidangnya secara
         professional
5. Disiapkan menjadi pendidik, terutama laki laki karena mereka
         akan menjadi pendidik utama istri dan anak anaknya serta bila  
         perlu keluarganya.
6. Khusus untuk laki laki dipersiapkan untuk jadi pengayom bagi
        kedua orang tua, keluarganya dan keluarga besarnya. Dia
        terutama yang bertanggung jawab dari mengurus kedua orang
        tuanya terutama kebutuhannya, ketika mereka tua dan sakit
        serta mengurusi dan mengimami sholat jenazahnya.
7. Anak laki laki dan perempuan di asuh untuk juga bisa
        bermanfaat bagi orang banyak.

Dengan adanya  rumusan yang jelas tentang Tujuan Pengasuhan ini maka bisa dibuat kesepakatan antara suami istri dalam menjalaninya dan membuat rencana evaluasi serta  bagaimana berbagi taggung jawab dalam  pelaksanaannya.
Mengapa sering sekali terjadi kekacauan seperti diatas, karena mengasuh anak tidak punya tujuan tak terbangun prinsip  yang jelas sehingga mudah latah atau hanyut dalam TREND, bagaimana orang sekitar mengasuh anaknya.
Kalau orang lain fokusnya hanya sukses akademis, yah kita gak perlu sama. Kita punya 6 tujuan lainnya yang harus kita capai, diuraikan dalam tahapan usia  dan dibuatkan rencana bagaimana mencapainya. Itulah Pe Er anda berdua sepanjang kehidupan sampai anak dewasa!.

3.Selanjutnya adalah  membuat rumusan tentang apa yang dibutuhkan  berdasarkan usia untuk setiap  aspek dari  Tujuan Pengasuhan.
Misalnya untuk menjadikan keimanan  anak lurus, ibadahnya baik dan akhlaknya mulia: Apa tugas ayah dan apa tugas ibu.Ayah menentukan garis besar nya lalu ayah dan ibu berbagi tugas dalam pelaksanaan kesehariannya. Tentulah dalam prakteknya bisa salah dan keliru atau terlupa, tapi karena ada tahapan evaluasi, maka semuanya bisa diluruskan kembali.
Bak kata pepatah : Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit.
Orang tua  terpaksa menjadi pembelajar sejati. Bukan anaknya saja yang dikirim kesekolah agama, ayah dan ibu mengaji untuk bisa menjadi guru pertama dan utama anaknya.
Yang penting dalam mengajarkan agama untuk anak bukan hanya sekedar mereka BISA tapi SUKA.
4.Persiapan menjadi suami istri, ayah dan ibu sama halnya dengan mengajarkan agama, di tentukan terlebih dahulu aspek apa yang diperlukan untuk menjadi suami dan istri serta ayah dan ibu  yang baik. Kemudian diturunkan apa yang perlu dididikan sejak kecil. Umpama kue dibuat “bite size”, dalam bentuk kecil yang bisa dikunyah. Misalnya anak memperoleh kepercayaan diri dari kehangatan hubungan dan rasa percaya yang ditunjukkan oleh orang tuanya. Kalau dia 7 tahun sudah terbiasa mengurus diri sendiri dan bisa membantu adiknya .. dstnya
5.Begitu jugalah dengan pendidikan formal. Usahakanlah agar anak masuk sekolah usia sekitar 7 tahun . Diusia ini mereka secara fisik, perkembangan otak, emosi dan sosialnya lebih siap untuk belajar.
Berarti waktu kapan  mulai masuk TKnya dihitung mundur.
Pilihan sekolah akan mengacu pada Tujuan Pengasuhan. Kita tak akan membua anak kita habis tenaga dan waktunya hanya sukses untuk akademis semata, karena kita punya hal hal lain yang harus dicapai.
Mencari sekolah punya dua pilihan :
Misalnya untuk SD:
a. Mata pelajaran padat tapi waktu pendek, pulag 11.30 atau jam
b. Waktu belajar panjang tapi materi tidak berat sesuai dengan kemampuan jarak perhatian dan kapasitas otak anak. Kita ingin anak tidak terbebani tapi mendapatkan pendidikan yang patut bagi usianya.
Sebagai contoh ada sekolah yang kelas satu pulang jam 2, tapi sejak jam 11.30 anak punya kesepatan tidur satu jam. Diatas jam12,30 tidak ada lagi mata pelajaran yang berat.  Atau sekolah lain pelajarannya  seperti berikut ini . Senin : Komputer – PKN – Silat. Selasa : Renang – Perpustakaan (baca buku) – IPS. Rabu: Bahasa Inggris – Perpustakaan – Penjas  dstnya.
Karena kita punya target pengasuhan, maka kita harus mencari sekolah yang tepat dan menunjang tercapainya tujuan pengasuhan kita.
Anak kita harus punya waktu untuk bercengkrama denga orang tua dan saudaranya, beribadah  dengan benar dan baik, bermain yang menyenangkan dan tidur yang cukup.
Saya teringat kata kata bijak dari tokoh pendidikan Amerika : Neil Postman, yang sejak tahun 1982 an sudah meramalkan keadaan anak anak kita dalam bukunya The  disappearance of childhood.

“Jangan kau cabut anakmu dari dunianya terlalu cepat, karena kau akan menemukan orang orag dewasa yang ke kanak kanakan!”

Bukankah sudah banyak kita temukan hal serupa ?
Semoga tak terjadi pada anak kita.
Yuk kita hadapi dan atasi semua tantangan dalam pengasuhan anak anak kita ini . semoga Allah mudahkan dan sukseskan kita menghasilkan generasi yang tangguh dan membahagiakan dunia dan akhirat.

Selamat berjuang.
Minggu tengah malam, 4 Desember 2016.
Elly Risman  
         
Silahkan share bila dianggap pantas.

Monday, August 7, 2017

Pesan Ibu Elly Risman

*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*

*Inilah pesan untuk para Orangtua:*

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja?
Pasti enggak, kan?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya?

*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah*, engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.

*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan, *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*

*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.

*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*

Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*

Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*

Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*

*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.

👶👦👧👶👦👧👶👦👧

Untuk saya dan bapak ibu semua..

Share buat para orang tua...☺🙏

Surga Terdekat Kita

*NOTE FOR PARENTS: Surga Terdekat Kita*

Pernah merasa seharian tidak melakukan apa-apa melainkan hanya menemani anak-anak bermain, sibuk menyiapkan menu special untuk anak berlanjut perjuangan menyuapinya hingga hitungan jam, menggendongnya sampai pegal pinggang saat dia rewel, mengeloninya lalu ikut tertidur, mengurusi semua keperluannya hingga kemudian hari sudah mulai petang dan belum melakukan pekerjaan lainnya?

Pernah merasa wasting time saat anak bayi masa “growth spurt” ? Dimana aktivitasnya hanya nyusu dan nyusu dengan jeda tipis sehingga emaknya cuma bisa nyusuin dan nyusuin bahkan makan dan mandi pun sulit?

Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.

Pernah merasa begitu banyak uang yang kita belanjakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan anak? Kebutuhan sehari-harinya, biaya sekolahnya, biaya pengobatannya serta berbagai fasilitas untuknya?

Pernah merasa begitu banyak hal yang kita korbankan untuk anak-anak? Ya soal waktu, tenaga, biaya …

Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.

Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun sadarkah bahwa kita sedang mengeluhkan surga terdekat kita sendiri?

Bukankah kita mengerti bahwa salah satu amal jariyah kita ada pada mereka berikut juga dengan kedudukan kita di akhirat bisa tertolong oleh mereka?

Bukankah kita sudah mengerti bahwa surga mereka ada pada ridho kita? Mengapa masih saja terlintas kesal, sebal  dan menganggap mereka merepotkan? Padahal kesalahan mereka sebagian besar adalah tanggungan kita sebagai orang tua. Padahal mungkin sebagian besar mereka tidak melakukan kesalahan hanya sedikit membuat repot dan mencari perhatian kita yang mahal harganya.

Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun nyatanya sedang mengeluhkan  surga di depan mata.

Padahal mereka yang menyelamatkan hari-hari kita, padahal mereka yang menawarkan lebih dari jutaan peluang amalan bagi kita. Bukankah menyusui itu berpahala? Bukankah mendidik anak berpahala? Bukankah bersenda gurau dengan anak adalah apa yang Rasulullah saw ajarkan? Bukankah mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan mereka lebih berpahala dibandingkan hanya untuk memenuhi kebutuhanmu saja?

Pantas saja, menikah disebut setengah agama, begitu banyak amalan luar biasa dalam bangunan pernikahan lalu setengah agama lagi kita penuhi dengan takwa.

Jadi, masih bisakah kita mengeluhkan anak-anak kita? Tanpa mereka bisa jadi surga tak sampai pada kita, dan karena ridho kitalah mereka dapat menapaki surga.

Padahal kitalah yang sedang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya jika membersamai mereka. Padahal belum tentu juga kita akan membelanjakan waktu lebih baik jika tidak sibuk mengurusi mereka.

Kali kalau kita gak ribet seharian ngurusin anak-anak bisa jadi malah ribet gossiping, shopping, atau doing nothing bahkan making sin?!

Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.

Segera peluk surga terdekat kita

*noteforme
By: Zarah Safeer

Wednesday, August 10, 2016

Toilet Training

Masing-masing anak berbeda-beda waktunya.
Sebaiknya diamati dulu tanda-tanda kesiapan anak menjalani Toilet Training (TT).

Tanda-tanda anak siap menjalani TT :

1. Ketika saat mau melakukan pipis atau pup anak melakukan kegiatan tertentu. Misalkan mojok, jongkok, turun dari kursi atau kegiatan lain yang unik.

2. Saat diapersnya penuh wajahnya gelisah, pegang-pegang diapersnya minta dibuka.

Kalau sudah menunjukkan tanda siap TT.
Kita kasih tau orang dewasa (ayah dan bunda) kalau mau pipis ke toilet. Kalau mau pup ke toilet.. jadi kakak juga ya kalau mau pipis atau pup ke toilet.

Dengan begini nanti lama-lama anak akan memahami bahwa kalau sudah jadi anak gede pipis sama pup di toilet.

Kemudian sugesti anak dengan mulai bilang..
"Waaaah.. udah berapa umur kakak sekarang.. (Dengan wajah happy ya)...
Eh kakak sudah umur x tahun
Udah gede ya.. (puji kebisaannya apa..)
Keren ya kakak udah bisa main ini... kakak udah gede ya? berarti abis ini kalau pipis sama pup di toilet ya.. kan udah gede.."

Terus aja diulang-ulang.
Biar terkoneksi antara pipis dan pup - toilet-anak gede-keren.

Semangat ya bunda !!!

Thursday, July 14, 2016

Resep Membuat Anak menjadi Baik

Bahan yang disediakan:
1. Anak yang sehat, fisik dan mental
2. Ibu yang penyayang, penyabar, gembira, cerdas, mau belajar dan berusaha
3. Ayah yang fun dan bersedia terlibat dan menyisihkan waktu untuk anak
4. Keluarga besar yang mendukung
5. Guru yang kreatif dan pendidik yang trampil
6. Teman-teman yang baik memberi pengaruh dan mengajak pada kebaikan
7. Masyarakat yang memberikan rasa aman dan mendukung pendidikan yang baik

Alat yang perlu dipersiapkan:
1. Ilmu Agama untuk menanamkan value
2. Ilmu Psikologi Perkembangan Anak, untuk memahami perkembangan anak
3. Ilmu Pendidikan, untuk memahami teknik-teknik mengajar anak
dan ilmu lainnya sesuai kebutuhan

Cara membuat:
- Diskusikan dengan pasangan, konsep pendidikan untuk anak sesuai value orangtua.
- Tentukan tujuan pendidikan, buat rincian perilaku anak baik seperti apa yang diharapkan. Sepakati bersama antara ayah dan ibu batasan perilaku tersebut
- Susun hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, sesuai dengan
- Buat pembagian tugas antara ayah dan ibu, termasuk mana yang menjadi wilayah guru di sekolah.
- Lakukan hal-hal yang sudah dikuasai dengan mengacu pada tujuan.
- Pelajari hal-hal yang masih belum dikuasai.
- Selalu cek/evaluasi perubahan dan pencapaian anak secara bertahap.
- Terbuka terhadap masukan dan feed back dari lingkungan.
- Buka mata terhadap lingkungan, pelajari pencapaian pasangan lain dalam pendidikan terhadap anaknya. Bila ada yang baik, jadikan resources. Bila ada yang buruk, jadikan pembelajaran.
- Fokus pada anak sendiri. Hindari membandingkan dan berkompetisi dengan anak lain atau pasangan lain.
- Antisipasi kegagalan dengan menyusun rencana preventif dan mempersiapkan problem solving untuk tindakan kuratif bila terjadi kegagalan.
- Libatkan orang-orang di lingkungan anak dengan share hal-hal yang menjadi fokus orangtua.
- Bumbu: hadiah, hukuman, kemanjaan, disiplin, dll, berikan sesuai kebutuhan dan secukupnya. Terlalu sedikit hidup menjadi hambar, terlalu banyak menyesakkan.
- Cari strategi ketika bahan dan peralatan tidak memadai
- Berdoa sebanyak-banyaknya meminta pertolongan Allah.

Sajikan dan nikmati hasilnya sepanjang hidup dan setelah orangtua meninggal dunia, ketika anak mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dan ketika anak memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain

*Jika parenting semudah mengikuti resep masakan

Yeti Widiati 140716

Wednesday, July 13, 2016

Tingkat Perkembangan Motorik Halus Berdasarkan Usia

Motorik halus adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang pada tingkat perkembangannya yang berhubungan dengan koordinasi fisik, sel otak dan koordinasi mata sehingga seorang anak mencapai kemampua sesuai dengan perkembangannya.

Kemampuan Motorik halus adalah tingkatan perkembangan yang harus dimiliki oleh setiap anak pada masing-masing perkembangannya. Masing-masing perkembangan motorik halus anak akan berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan anak termasuk dalam kecerdasan dan keadaan fisik anak, stimulus yang anak dapat dari lingkungan keluarganya termasuk dalam pola asuh dan pola didik serta perkembangan kemampuan masing-masing anak.

Berikut ini tingkat perkembangan motorik halus menurut tingkatan usia :

1. Usia 1- 2 tahun
a. Memegang alat tulis
b. Membuat coretan bebas
c. Menyusun menara dengan 3 balok
d. Memegang gelas dengan 2 tangannya
e. Menumpahkan benda-benda dari wadah dan memasukkanya kembali
f. Meniru garis vertikal dan horizontal
g. Memasukkan benda ke dalam wadah yang sesuai
h. Membalik halaman buku walau belum sesuai
i. Menyobek kertas

2. Usia 2-3 tahun
a. Meremas kertas atau kain dengan menggunakan lima jari
b. Melipat kertas meskipun belum rapi/lurus
c. Menggunting kertas tanpa pola
d. Koordinasi tangan cukup baik untuk memegang benda pipih seperti sikat gigi dan sendok

3. Usia 3-4 tahun
a. Menuangkan air, pasir atau biji-bijian kedalam tempat penampung (ember, mangkuk)
b. Memasukkan benda kecil kedalam botol (potongan lidi, kerikil atau biji-bijian)
c. Meornce manikmanik yang tidak terlalu kecil dengana benang yang agak kaku
d. Menggunting kertas dengan pola garis lurus

4. Usia 4-5 tahun
a. Membuat garis vertikal, horizontal, garis lengkung kiri/ kanan, miring kiri/kanan dan lingkaran
b. Menjiplak bentuk
c. Mengkoordinasi jari tangan dan mata untuk meniru bentuk tulisan
d. Meniru bentuk dari berbagai media
e. Membuat bentuk dari bahan tanah liat/plastisin atau media lainnya sesuai dengan ekspresi diri

5. Usia 5-6 tahun
a. Menggambar sesuai dengan gagasannya
b. Meniru bentuk dengan berbagai media (menulis bentuk, melipat, membentuk plastisin)
c. Melakukan ekspolari dengan berbagai media
d. Menggunting sesuai pola
e. Menempel gambar dengan tepat
f. Menggambar secara detail

Kedudukan Anak dalam Al Qur'an

Anak adalah anugerah
4 kedudukan anak dalam Al-Qur'an :

1. Anak sebagai musuh. hal ini Allah jelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.

2. Anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Taghabun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.

3. Anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.

4. Anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya.

Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita.

Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya.

Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.


Dari ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun.

Namun untuk mencapainya Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya.

Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya.

Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah.

Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya.

Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat.

Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.

Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.

Monday, January 4, 2016

Jus Buah Untuk si Kecil dan Manfaatnya

1. Jus pepaya jeruk : untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
2. Jus apel labu : mencegah dan mengobati influenza.
3. Jus alpukat susu : untuk meningkatkan daya ingat anak.
4. Jus mangga manis melon : untuk menurunkan demam.
5. Jus pisang jeruk : meningkatkan daya tahan tubuh.
6. Jus jeruk wortel : menjaga kesehatan mata.
7. Jus pisang: untuk sumber energi.
8. Jus semangka : untuk antialergi dan antioksidan.
9. Jus bit jeruk : mencegah anemia.
10. Jus jambu jeruk : melancarkan pencernaan
11. Jus jerman / melon jeruk / melon hijau + susu : mengobati demam.
12. Jus semangka pepaya : antialergi.
13. Jus melon alpukat : meningkatkan energi dan perkembangan otak.
14. Jus pepaya bengkuang : mengobati radang tenggorokan.
15. Jus tomat wortel : mencegah sembelit.
16. Jus pir jeruk : mencegah dehidrasi dan mengobati diare.
17. Jus bayam tomat jeruk : daya ingat.
18. Jus brokoli jeruk : meningkatkan kecerdasan anak.
19. Jus kiwi : meningkatkan kekebalan tubuh.
20. Jus jambu wortel : utk membunuh virus penyakit.
21. Jus jeruk pisang susu : meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.
22. Jus apel strawberi / tomat : menambah nafsu makan.
23. Jus semangka melon : membuat tubuh lebih bugar.
24. Jus pisang alpukat : mencegah anemia.
25. Jus labu kuning mangga manis : mengobati diare.
26. Jus apel pir kuning : pertumbuhan tulang gigi.

Catatan :
untuk Jus yang pakai sayur sebaiknya sayurannya di cuci bersih lalu di kukus sebentar saja.
untuk jus buah tidak perlu pakai gula lagi, karna buah sudah mengandung gula alami.
boleh campur madu bila suka.
JANGAN pakai susu kental manis.
Lebih sehat susu kedelai susu UHT juga boleh.

Oleh Amanda Pingkan Wulandari Pratama, Endang Anindya Maulana, dan 54 lainnya di Homemade Healthy Baby Food.

Monday, October 19, 2015

Benarkah Dropship Dilarang?

Sebagian dari pedagang online mengandalkan system dropship dengan mempertimbangkan segala kemudahannya.

Namun apakah system dropship ini diperkenankan dalam Islam?

Mari kita simak kajian berikut, yang saya dapatkan dari sebuah forum di grup Whatsapp.

Trading - akad jual beli SYARI By @LitaMucharom Ada koreksi Setelah konsultasi ke ustadz Arim Nasim

SKEMA 1
1. Akad titip jual / perwakilan jual. Sepakat harga jual. Jd kategorinya adalah agen/reseller. Asal penjual tau reseller mau jual brapa dan ridho ya tidak apa apa.
2. reseller diperbolehkan menawarkan walau barang belum dibayar dan belum ada stock
3. reseller jual lagi sesuai kesepakatan harga dan pesan jika ada kebutuhan
4. & 5. PEMBELI BAYAR LUNAS SEBELUM BARANG DIKIRIM, PEMBAYARAN INI DITERUSKAN KE PEMILIK BARANG
6. Pemilik barang bisa mengirim langsung ke pembeli (Pengirim a.n. Pemilik Barang) namun tanggung jawab sampai/tidak dan kerusakan barang menjadi tanggungjawab Pemilik Barang.


SKEMA 2 :
TIDAK BERLAKU UNTUK KOMODITAS YANG BISA DIHITUNG, DITAKAR & DITIMBANG
1. Reseller bayar lunas barang di depan. (Beli putus dan tunai)
2. reseller diperbolehkan menawarkan walau barang belum sampai dilokasi reseller. stockingnya di lokasi pabrik atau ditahan produksinya krn expired date nya cepat
3. reseller jual lagi sesuai harga yang ditetapkan sendiri oleh reseller
4. Reseller dapat pesan kembali ketika stock habis dan lunasi ke pemilik barang sebelum barang diterima reseller
5. Pembeli bayar lunas ke reseller sesudah / sebelum barang diterima
6. Pemilik barang bisa mengirim langsung ke pembeli (pengirim a.n Reseller ) & tanggung jawab sampai/tidak dan kerusakan barang menjadi tanggungjawab Resseller.

SKEMA 3 :
1. Akad perwakilan jual. Harga mengikuti ketetapan pemilik barang. Komisi untuk reseller di sepakati di depan
2. reseller diperbolehkan menawarkan walau barang belum sampai dilokasi reseller dan belum dibayar.
3. Pembeli bayar lunas langsung ke pemilik barang SEBELUM BARANG DIKIRIM
4. Pemilik barang bisa mengirim langsung ke pembeli namun tanggung jawab sampai/tidak dan kerusakan barang menjadi tanggungjawab pemilik barang
5. Reseller menerima komisi yg sudah disepakati sebelumnya dari pemilik barang

 SKEMA 4:
 1. Akad perwakilan jual. Harga mengikuti ketetapan pemilik barang. Komisi untuk reseller di sepakati di depan
2. Barang sudah diterima oleh reseller (titip jual / konsinyasi)
3. reseller diperbolehkan menawarkan walau barang belum dibayar.
4. Pembeli bayar lunas langsung ke reseller sesudah / sebelum barang diterima
5. Pemilik barang bisa mengirim langsung ke pembeli namun tanggung jawab sampai/tidak dan kerusakan barang menjadi tanggungjawab Reseller
6. Reseller membayar pemilik barang segera setelah barang laku dan dikurangi komisi yg sudah disepakati. setelah transaksi selesai dan lunas.

Artikel lain yang berhubungan dengan dropship bisa dibaca di link berikut..
 Sistem Dropshipping dan Solusinya | Rumaysho.Com - http://rumaysho.com/3035-sistem-dropshipping-dan-solusinya.html

Friday, October 16, 2015

Meniup Minuman Panas

Salah satu adab makan adalah dilarang bernafas di dalam wadah dan juga dilarang meniup-niup saat minum. Adab ini kadang tidak diperhatikan oleh kita karena ingin buru-buru segera menikmati minuman yang sedang panas.

Padahal menunggu sebentar atau tanpa meniup-niup, itu lebih selamat bahkan lebih sehat. Karena perlu diketahui bahwa saat meniup-niup seperti itu, sejatinya yang keluar adalah udara yang tidak bersih. Dengan alasan inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

 Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﻔْﺦِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺸُّﺮْﺏِ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺍﻟْﻘَﺬَﺍﺓُ ﺃَﺭَﺍﻫَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻹِﻧَﺎﺀِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﻫْﺮِﻗْﻬَﺎ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺈِﻧِّﻰ ﻻَ ﺃَﺭْﻭَﻯ ﻣِﻦْ ﻧَﻔَﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻓَﺄَﺑِﻦِ ﺍﻟْﻘَﺪَﺡَ ﺇِﺫًﺍ ﻋَﻦْ ﻓِﻴﻚَ » “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meniup-niup saat minum.

Seseorang berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?” Beliau bersabda, “Tumpahkan saja.” Ia berkata, “Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan nafas.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat mimum) itu dari mulutmu.” (HR. Tirmidzi no. 1887 dan Ahmad 3: 26. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

 Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃَﻥْ ﻳُﺘَﻨَﻔَّﺲَ ﻓِﻰ ﺍﻹِﻧَﺎﺀِ ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﻔَﺦَ ﻓِﻴﻪِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari bernafas di dalam wadah air (bejana) atau meniupnya.” (HR. Tirmidzi no. 1888, Abu Daud no. 3728, dan Ibnu Majah no. 3429. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

 Imam Nawawi rahimahullah membawakan dua hadits di atas pada kitab adab makan pada Bab “Makruhnya meniup-niup saat minum.”

 Di atas disebutkan mengenai bernafas di dalam wadah, itu pun terlarang. Artinya saat minum dilarang mengambil nafas dalam wadah. Yang dibolehkan adalah bernafas di luar wadah. Sedangkan meniup-niup saat minum -sebagaimana kata Ibnu Hajar- itu lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata, ﻭَﺍﻟﻨَّﻔْﺦ ﻓِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﺣْﻮَﺍﻝ ﻛُﻠّﻬَﺎ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺘَّﻨَﻔُّﺲ “Meniup-niup minuman dalam kondisi ini lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah.”

 Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa ketika seseorang meniup-niup, maka yang keluar adalah udara yang kotor. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan seperti itu.

 Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan bahwa jika ada yang tidak dapat minum dengan satu tarikan nafas, maka ia bisa minum lalu bernafas setelah itu di luar wadah, lalu minum kembali. Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, sebagian ulama menyatakan ketika butuh tidak mengapa meniup minuman yang sedang panas biar cepat dingin. Mereka memberikan keringanan dalam hal ini. Akan tetap kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, tetap berpendapat bahwa minuman panas tidak ditiup seperti itu.

 Sebenarnya bisa melakukan solusi untuk mendinginkan minuman, yaitu dengan menuangkan minuman yang panas ke wadah lainnya, lalu membalikkannya kembali. Ini di antara cara yang tidak dilarang dalam mendinginkan minuman.

Demikian maksud penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 245.

 Sumber: http://rumaysho.com/6930-meniup-niup-minuman-yang-panas.html

Pengakuan

Zahra 3 tahun,
Sedang masanya menunjukkan aku bisa.. aku ada.. dan aku mampu..

Suatu ketika zahra berbuat sesuka hatinya gara-gara tidak suka dengan pilihan bundanya..
Tidak peduli dengan rambu-rambu yang sudah disepakati..
Awalnya zahra tidak mau dibantu, tidak mau diarahkan..
"Aku bisa tanpa bantuan bunda" begitulah kira2 pesan yang ingin disampaikan oleh zahra..
Walaupun pada akhirnya tetap mendatangi bunda untuk minta bantuan..
Begitulah anak-anak..
Butuh pengakuan..
Butuh apresiasi..

anak-anak yg mendapatkan cukup pengakuan dan apresiasi dari kedua orangtunya,
Menurutku in syaa Allah diluar rumah mereka akan tumbuh menjadi anak yg percaya diri dan mandiri..

Eits...
Sebenarnya pengakuan dan apresiasi ini menurutku tidak hanya diperlukan bagi anak-anak aja kan ya..

Yang dewasa juga perlu kan ya?
ayah dan bundanya perlu di apresiasi juga dong..

Coba diamati...
Kalau seorang istri atau suami mendapat pengakuan dan apresiasi yg cukup dari anggota keluarga didalam rumah..

Diluar rumah mereka akan terlihat lebih dewasa, stabil dan mature..
Setuju atau sangat setuju?

Sunday, October 11, 2015

Trauma

Masa kecil yang sering dibentak
Masa kecil yang sering dimarahi
Masa kecil yang selalu dinilai salah

Itu akan meninggalkan trauma yang mendalam sampai dewasa.
Walaupun pujian dan penghargaan datang bertubi tubi karena prestasinya disaat dewasa.

Rasa takut salah dan tidak percaya diri akan tetap dominan
Dan akan merasa lebih nyaman bekerja dibalik layar



Wednesday, July 8, 2015

Beres beres

BERES-BERES

Oleh : Ida s widayanti

Dua orang sahabat yang sudah lama berpisah, bertemu saat mereka sudah sama-sama memiliki anak kecil. Salah seorang dari mereka berkata, wah, pasti repot punya tiga anak kecil-kecil. Rumah pasti selalu berantakan, ya? "

Namun jawaban sahabatnya itu sunggu sangat tak terduga. "Alhamdulillah, semua anak saya sudah biasa beres-beres sejak kecil. Bahkan anak saya yang dua tahun juga sudah mulai belajar membereskan mainannya sendiri. "

Jawaban tersebut tentu mengagetkan temannya, ia seperti juga ibu lainnya, menganggap beres-beres hanya pekerjaan orang tua dan anak yang sudah besar.

Saat ini, banyak orang tua yang penyadari pentingnya mainan edukatif untuk kecerdasan anaknya. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa beres-beres setelah bermain juga tak kalah penting. Selain membangun karakter mandiri, disiplin, dan tanggung jawab, beres-beres juga sangat menstimulasi kecerdasan.

Saat beres-beres, anak banyak belajar hal penting untuk kehidupannya, pertama , anak belajar sebab-akibat. Ketika ia membuka sebuah kotak mainan dan mengeluarkannya lalu membereskannya lagi, iya melihat segala sesuatu yang ia lakukan akan berdampak pada lingkungannya.

Kedua, melatih kegiatan klasifikasi, saat membereskan mainan kira bisa melatih kemampuan anak mengenali bentuk, ukuran dan warna benda lalu mengelompokkannya. Itulah yang dimaksud klasifikasi. Sebuah kemampuan yang mengasah kognisi anak sekaligus awal mengenalkan konsep salah dan benar.

Ketiga, saat anak beres-beres ia belajar tentang mengawali dan mengakhiri (start dan finish) sebuah kegiatan. Mereka belajar fokus dan tuntas terhadap sebuah kegiatan . serta masih banyak lagi manfaat lainnya

Lalu bagaimana mulai nengajarkan beres-beres pada anak?

Pertama, sejak bayi biasakan anak melihat suasana yang rapi. Penataan pakaian dan mainan yang rapi akan membuat mata anak terbiasa dan merasa nyaman dengan kerapian.

Kedua, biasakan anak anak melihat proses beres-beres dan jelaskan pada mereka urutannya. Hindari beres-beres saat anak sedang tiduu, karena anak akan menganggap segala sesuatu akan beres dengan sendirinya.

Ketiga, ajak anak beres-beres segera setelah selesai bermain, libatkan secara bertahap dari yang paling sederhana misalnya memasang tutup kotak mainan atau mendorong laci mainannya. Selanjutnya seiring dengan perkembangan usia anak, kita bisa meningkatkan keterlibatan anak dalam beres-beres lebih jauh lagi sampai dia mandiri.

Saat anak-anak berusia antara dua sampai tiga tahun, biasanya anak secara alamiah mulai serba ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Saat itulah waktu terbaik untuk melatih mereka ikut terlibat dalam proses beres-beres. Mengajarkan cara membuabg sampah pada tempatnya yang membuka tutupnya dengan cara diinjak, akan sangat menyenangjan mereka. Merekapun akan terstimulasi membuang sampah pada tempatnya.

Menurut seorang ahli pendidikan , jika anak sudah terbiasa beres-beres dengan hal konkrit, seperti mainan dan peralatan, kelak ia juga akan terbiasa beres-beres dalam hal yang abstrak. Ketika ada masalah arau ganjalan dengan saudara, renan, gueu atau orangtuanya, ia akan segera membereskannya (menyelesaikannya).

Dikutip dari buku:
Mendidik karakter dengan karakter

Wednesday, March 11, 2015

Cara Agar Anak Tidak Ngompol lagi

Saat anak dirasa sudah cukup besar dan mampu tidur terpisah dari orang tua, mengompol bisa jadi hal yang menjengkelkan bagi ibu atau ayahnya. Sebenarnya itu wajar karena ngompol terjadi pada 15 persen sampai 20 persen anak usia sekolah dasar. Sedangkan sebagian besar anak (sekitar 98 persen-99 persen) masih mengompol di masa pertumbuhannya.

Anak-anak biasanya mampu bangun dan pergi ke kamar mandi ketika ia merasa kandung kemihnya penuh. Tapi, bagi yang memiliki respon kurang baik, mereka tidak bisa bangun dan akhirnya akan buang air kecil di tempat tidur.

Lalu, bagaimana caranya agar anak terutama yang sudah mulai bersekolah, agar bisa berhenti mengompol? Berikut ini cara yang bisa dilakukan orang tua agar buah hatinya bisa berhenti mengompol seperti ditulis Essential Kids, Jumat (22/8/2013):

1. Terapi sederhana
Terapi perilaku sederhana bisa dilakukan agar anak tidak ngompol lagi. Misalnya dengan membawa anak ke toilet pada malam hari supaya mereka buang air kecil. Atau bisa juga dengan memberi hadiah kepada mereka ketika berhasil tidak ngompol. Meski tidak seefektif menggunakan alarm atau obat, jika telaten melakukannya maka lama-lama anak juga bisa menghentikan kebiasaan mengompolnya.

2. Urotherapy
Bidang urologi bisa mengatasi masalah mengompol pada anak yakni dengan memperhatikan beberapa hal. Pastikan anak mendapat asupan cairan yang cukup yaitu sekitar lima sampai enam gelas per hari serta hindari minuman yang mengandung kafein, termasuk susu coklat. Hindari pula konsumsi banyak cairan di sore hari atau dekat waktu tidur.

Sebaiknya juga jangan berikan obat sembelit pada anak karena ini akan mempengaruhi kandung kemihnya. Perhatikan juga bentuk closet yang sering digunakan anak-anak terutama pada closet duduk pastikan ada bantalan kaki yang bisa mempermudah ia saat duduk dan buang air kecil. Latih anak untuk teratur mandi dan istirahat setiap hari serta jangan pernah menyuruh anak untuk menahan ketika ia ingin buang air besar.

3. Berlatih dengan alarm
Pelatihan alarm bertujuan melatih anak untuk menahan buang air kecil saat tidur dan segera bangun ketika ia merasa kandung kemihnya penuh. Pertama bisa digunakan alarm yang terhubung dengan perlak. Jika perlak terkena cairan, maka alarm akan berbunyi dan membangunkan si anak. Kedua menggunakan alarm yang secara khusus terhubung ke dalam popok anak. Saat ada cairan sedikit saja maka alarm akan berbunyi.

Kesabaran adalah kunci metode ini. Dikatakan berhasil jika anak sudah tidak mengompol selama 14 hari berturut-turut. Reaksi anak terhadap bunyi alarm sangat penting tapi keberhasilan latihan ini bisa dilakukan selama dua sampai empat bulan hingga benar-benar efektif.

4. Obat
Obat untuk menghilangkan kebiasaan ngompol biasanya menjadi solusi terakhir dan hanya dalam jangka pendek. Desmopresin adalah hormon sintetis yang memiliki efek anti-deuretik yang bekerja di ginjal untuk mengurangi produksi urine dalam semalam. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup, dan semprot hidung.

Obat ini efektif mengatasi 70 persen kasus mengompol pada anak-anak. Desmopresin mungkin berguna ketika anak butuh istirahat yang cukup banyak atau ketika melakukan kemping di sekolah. Obat lain, imipramine adalah obat pertama yang digunakan untuk mengatasi enuresis nocturnal (tidak bisa menahan buang air kecil pada malam hari) tapi obat ini tidak dianjurkan sebagai pengobatan pertama kali.

Sumber : health detik

Salam
bunda Zilah

Tips untuk anda untuk mengatasi kebiasaan buruk, mengompol pada anak


1.   Bagi anda yang memiliki anak dengan kebiasaan buruk, mengompol anda tidak perlu menghukum anak anda atau menyalahkannya, hindari menunjukan rasa jengkel, marah ataupun panik. Berikan dukungan anak anda dengan menasehatinya dan memberikan pengarahan sebelum anak anda pergi tidur malam sehingga dapat mengurangi kebiasaan mengompol.

2.   Jangan mempermalukan anak atau membandingkan anak anda dengan anak lain, bahkan jika anak dapat melalui tidurnya tanpa mengompol, anda dapat memberikan sebuah hadiah atau pujian tentang keberhasilannya untuk mengurangi kebiasaan mengompol, untuk membuat dia lebih termotivasi.

3.   Minta anak Anda untuk mengubah seprai dan pakaian di malam hari, ketika anak sudah mampu melakukannya atau menempatkan tikar karet ditutupi dengan kain di tempat tidur, sehingga anak-anak dapat belajar untuk bertanggung jawab dan mengurangi kebiasaan buruk, mengompol.

4.   Selain itu, pastikan anak Anda buang air kecil sebelum tidur. Dorong anak-anak untuk mengikuti instruksi dari seorang dokter, seperti latihan relaksasi atau pelatihan kandung kemih menahan keluarnya air seni atau latihan modifikasi perilaku. Jika perlu, anda dapat membeli alarm antimengompol yang cocok untuk anak usia lima tahun ke atas. Alarm ini memiliki sensor kelembaban dikenakan langsung pada pakaian dalam. Pada tetes cairan pertama, sebuah bel akan membangunkan anak anda. Secara bertahap anak belajar untuk bangun ketika mereka merasa ingin buang air kecil.


Salam
Bunda Zilah

Monday, February 23, 2015

Anak Otak Kanan yang bermasalah dengan sekolahnya

Para orang tua yang berbahagia....banyak sekali anak-anak yang sulit mengikuti pelajaran di sekolah...., jika hal ini terjadi bisa jadi anak anda adalah anak yang lebih dominan otak kanannya.

Apa sih anak otak kanan, ya seorang anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pencipta dan penemu hal-hal baru di dunia ini baik dalam bidang seni ataupun bidang sains.

Berdasarkan penelitian anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi ke dalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Nah mengapa sering kali banyak anak yang bermasalah dengan belajar di sekolah...., karena berdasarkan penelitian ternyata kebanyakan sistem belajar mengajar di sekolah masih menggunakan pola dan cara yang dominan otak kiri. Sementara otak kanan dan otak kiri manusia memiliki perbedaan cara kerja yang sangat jauh dan bahkan saling bertentangan, atau mungkin lebih tepatnya otak kanan dan kiri ada untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Namun sayangnya hal ini tidak banyak diketahui oleh para orang tua dan guru di sekolah. Sehingga anak-anak yang seharusnya lahir sebagai para pencipta, desainer, seniman dan ilmuan, mereka semua malah dianggap anak-anak yang gagal. Padahal mereka hanyalah anak-anak yang membutuhkan pendekatan cara belajar otak kanan saja. (di jelaskan dalam buku The Right Brain Child in Left Brain World, by Jefrey Fred & Laurie Parson, Penerbit Karisma-edisi terjemahan)

Prilaku mereka yang sering dianggap bermasalah justru sebenarnya adalah prilaku khas yang dimiliki oleh seorang anak yang dominan otak kanannya, kita dapat mengenali prilaku ini dengan cepat dan mudah... ya tentunya jika kita merasa bahwa anak-anak kita adalah wakil-wakil dari keinginan Tuhannya dan bukan wakil-wakil dari keinginan kita.

sumber : Ayah edy