Bijak menghadapi :Tantangan pengasuhan sehari hari
Kali ini saya ingin mengajak anda para orangtua pembelajar untuk bersama menengok keseharian anak kita, dan kemudian untuk mengenali tantangan pengasuhan sehari hari dimana kita bergulat untuk membentuk anak anak kita menjadi anak anak yang seperti diperintahkan Allah yaitu anak anak yang utamanya menjadi penyembah Allah – Li ya’buduun.
“ Berapa usia anak anak anda kelas berapa mereka sekarang ?”
Saya ambillah contoh anak SD kelas rendah dulu, yaitu kelas -3. Dari sini nanti kita dengan mudah menaikan jejangnya dan juga memahami kemajemukan masalah yang kita hadapi sehari hari..
Mengenai jadwal ini sangat bergantung aturan di masing masing keluarga, jam masuk sekolah, jarak tempuh dan Kalau mau anak diajar dan dilatihkan sholat shubuh tepat waktu, berarti kita sudah coba membangunkan anak 10’ – 15’sebelum waktu sholat tiba, sekitar 03.50 atau pukul 04.00.
Kita buatlah jadwalnya sebagai berikut :
03.50 – 04.05 Bangun, siapa siap utk sholat
04.10 – 04.25 Sholat subuh, baca Qur’an atau bahas hal hal agama yg lainnya
4.25 - 6.30 Mandi siap siap, membantu tugas RT lainnya , sarapan . Mengulang pelajaran atau mengerjakan tugas RT atau bantu ibu atau bercengkrama dengan keluarga.
6.30 – 7.00 Berangkat sekolah
07.00 – 13.30 Disekolah
13.30 - 14.30 Pulang sekolah, sampai dirumah. Sangat tergantung jarak rumah – sekolah dan macet tidaknya jalan dan kendaraan yang digunakan.
Ini kurang lebih jadwal untuk kelas rendah. Semakin tinggi kelas anak semakin sore tibanya di rumah. Anak kelas 4-6 biasanya sampai dirumah berkisar atara jam 4- 5. Sementara anak SMP biasa sampai dirumah magrib atau bahkan malam hari. Apalagi kalau ada tugas berkelompok atau les tambahan . Riset kami menujukkan bahwa umumnya anak anak SD akan les 2-3 hari dalam seminggu, sementara anak SMP akan les lebih banyak hampir 5-6 hari dalam seminggu.
Orang tua yang terlalu cemas akan banyak hal dalam keberhasilam akademis anaknya dimasa depan atau yang terlalu sibuk sehingga sulit untuk punya waktu dengan anaknya akan mengatur jadwal les yang padat. Alasannya dari pada waktu digunakan tidak menentu lebih baik anaknya ikut ber macam macam les.
Marilah kita sadari berapa padatnya otak anak dengan berbagai tugas tersebut, berapa lelah jiwanya dan jerih badannya. Dini hari besoknya, dia akan menghadapi lagi hal yang sama. Terus dan terus dan terus…
Sudah lah capek, umumnya orang tua tak sanggup menerima bahasa tubuh yang menunjukkan kelelahan dan sikap yang agak malas malasan dan lama dalam menyelesaikan sesuatu yang disuruh. Apa lagi kalau berkilah, membantah, memprotes, berkata dengan nada tinggi, menolak melakukan atau mengerjakan sesuatu.
Wah bayangkanlah reaksi orang tua, apalagi mereka yang tadi seharian sudah habis tenaga dan emosinya terkuras diluar rumah, lepas dia bekerja atau sekedar aktifitas ‘killing time “saja.Memukul mungkin tak sembarang orang, tapi apa kabar dengan kata kata ?
Banyak yang tidak faham bahwa kata kata yang tajam walau dalam nada rendah menusuk kedalam jiwa, “verbal abuse” namanya. Kalau perasaan diabaikan bahkan di”iris dan dihunjam” juga atas nama kepuasan emosi ibu dan ayahnya, “emosional abuse” istilahnya.
Bagaimana anak tidak menumpuk lapisan emosi yang tinggi dalam dadanya yang sekali meledak bak air bah yang bobol tanggulnya.
Lupa, hal ini sudah berlangsung lama, sejak usia 6-7 tahun, atau mungkin lebih muda. Tak disadari hari telah berganti minggu , minggu berganti bulan. Bulan terlah beralih tahun dan tahun dan tahun….
Siapa yang mengerti beratnya beban fikir dan jiwa anak?. Dengan dalih masa depan yang masih sekitar 15 – 20 tahun lagi itu, sejak muda usia anak di pacu dan di dera untuk mempertahankan prestasinya sekuat yang dia bisa.. Bukan hanya badan, banyak yang tidak faham betapa jiwa anak dan remaja kita ini pun tak sempat bernafas.
Anda mungkin tidak percaya, bahwa 7 dari 15 pemerkosa Yuyun yg sempat saya temui bersama dengan dr Dewi Inong di penjara, menyatakan bahwa mereka menyimpan dendam pada ibunya: karena kata kata yang mereka terima terlalu menusukjiwa!.
Apa yang hilang dari pengasuhan ?
Banyak!.
1. Yang pertama adalah hilangnya kehangatan, kebersamaan dan
keceriaan anak anak dan remaja.
2. Cinta Belajar. Beban pelajaran dan waktu belajar yang padat kita kawatirkan telah mencederai semangat belajarnya. Mereka masih akan belajar belasan tahun lagi. Kalau sekarang sudah “bantat” karena lelah jiwa, dari mana akan diperolehnya semangat dan kecintaan menuntut ilmu dan untuk menyelesaikannya sampai jenjang yang tinggi?
3. Yang paling mahal yang hilang bila tak pandai pandai mensiasati adalah Dialog. Karena waktu yang sempit,pola bicara hanya perintah larangan dan komentar. Bagaimana akan menyampaikan pesan, membentuk kebiasan baik, menambah pengetahuan, memperluas wawasan dan yang paling penting bagaimana bisa mengetahui kebutuhan utama anak dan mendengar dan memahami perasaannya?
Percakapan berpusar hanya pada masalah akademik semata.
4. Banyak hal hal esensial yang harusnya dibahas diajarkan pada anak jadi tak kebagian waktu, apalagi kalau kedua orang tua sibuk : Berbagai aspek dalam penanaman aqidah yang lurus, ibadah yang benar ,amalan yg shalih dan akhlak mulia serta berbagai kisah kenabian dan para sahabat yang mulia tak sempat dilakukan.
5. Hal lainnya yang umumnya sungguh terabaikan adalah persiapan pra baligh dan keharusan bijak berteknologi.
Apa yang terjadi ?
Tanpa terasa oleh karena jadwal yang padat dan ortu yang sibuk, tahu tahu anak sudah pra remaja. Mereka sudah “ sexually active” sementara persiapan untuk baligh jauh dari memadai. Anak kurang memiliki berbagai pengetahuan dan ketrampilan hidup, padahal mereka adalah generasi Platinum yang hidup di era digital. Tiba tiba terasa kita memiliki banyak sekali masalah.
Karena beratnya beban hari hari yang dihadapi anak, mereka mencari kesenangan dengan atau melalui handphone, laptopnya, games dan berbagai fasilitas technology lainnya. Anak terpapar pada berbagai bentuk kriminalitas, narkoba, perjudian, berbagai bentuk kenakalan remaja lewat sosial media dan tentunya pornografi yang sudah sering sekali kita bahas di grup ini.
Kita menghadapi berbagai masalah perilaku yang luar biasa rumitnya, tak meyadari sebab musababnya karena merasa semua berjalan seperti biasanya dan kini bingung mencari solusinya.
Bagaimana sebaiknya ?
Berikut sekedar usulan saya bagaimana menghindari bila belum terjadi dan mengatasinya bila sudah terlanjur tidak sengaja.
1.Cukupkanlah kehangatan anak dan kelengketan jiwa ke jiwa dengan kedua orang tuanya . Penuhi bejana jiwa anak kita pada saat dia butuhkan dalam jumlah yang cukup oleh kedua orangtuanya.
2.Riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa pasangan muda lupa merumuskan dan menyepakati tujuan pengasuhan anak anaknya Kacaunya arah pengasuhan anak adalah karena orang tua lupa merumuskan Tujuan Pengasuha dengan rinci, bukan hal hal yang umum dan generik seperti : Menjadikan anak shalih dan shaliha saja.
Ada tujuh Tujuan Pengasuhan yang kami sarankan berdasarkan riset kami .
1. Menjadi hamba Allah yang Taqwa, Imannya lurus, ibadahnya
benar dan baik serta akhlak nya mulia.
2. Diasuh dan disiapkan untuk menjadi calon suami dan istri
3. Dipersiapkan untuk menjadi ayah dan ibu
4. Dididik untuk menjadi ahli dalam bidangnya secara
professional
5. Disiapkan menjadi pendidik, terutama laki laki karena mereka
akan menjadi pendidik utama istri dan anak anaknya serta bila
perlu keluarganya.
6. Khusus untuk laki laki dipersiapkan untuk jadi pengayom bagi
kedua orang tua, keluarganya dan keluarga besarnya. Dia
terutama yang bertanggung jawab dari mengurus kedua orang
tuanya terutama kebutuhannya, ketika mereka tua dan sakit
serta mengurusi dan mengimami sholat jenazahnya.
7. Anak laki laki dan perempuan di asuh untuk juga bisa
bermanfaat bagi orang banyak.
Dengan adanya rumusan yang jelas tentang Tujuan Pengasuhan ini maka bisa dibuat kesepakatan antara suami istri dalam menjalaninya dan membuat rencana evaluasi serta bagaimana berbagi taggung jawab dalam pelaksanaannya.
Mengapa sering sekali terjadi kekacauan seperti diatas, karena mengasuh anak tidak punya tujuan tak terbangun prinsip yang jelas sehingga mudah latah atau hanyut dalam TREND, bagaimana orang sekitar mengasuh anaknya.
Kalau orang lain fokusnya hanya sukses akademis, yah kita gak perlu sama. Kita punya 6 tujuan lainnya yang harus kita capai, diuraikan dalam tahapan usia dan dibuatkan rencana bagaimana mencapainya. Itulah Pe Er anda berdua sepanjang kehidupan sampai anak dewasa!.
3.Selanjutnya adalah membuat rumusan tentang apa yang dibutuhkan berdasarkan usia untuk setiap aspek dari Tujuan Pengasuhan.
Misalnya untuk menjadikan keimanan anak lurus, ibadahnya baik dan akhlaknya mulia: Apa tugas ayah dan apa tugas ibu.Ayah menentukan garis besar nya lalu ayah dan ibu berbagi tugas dalam pelaksanaan kesehariannya. Tentulah dalam prakteknya bisa salah dan keliru atau terlupa, tapi karena ada tahapan evaluasi, maka semuanya bisa diluruskan kembali.
Bak kata pepatah : Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit.
Orang tua terpaksa menjadi pembelajar sejati. Bukan anaknya saja yang dikirim kesekolah agama, ayah dan ibu mengaji untuk bisa menjadi guru pertama dan utama anaknya.
Yang penting dalam mengajarkan agama untuk anak bukan hanya sekedar mereka BISA tapi SUKA.
4.Persiapan menjadi suami istri, ayah dan ibu sama halnya dengan mengajarkan agama, di tentukan terlebih dahulu aspek apa yang diperlukan untuk menjadi suami dan istri serta ayah dan ibu yang baik. Kemudian diturunkan apa yang perlu dididikan sejak kecil. Umpama kue dibuat “bite size”, dalam bentuk kecil yang bisa dikunyah. Misalnya anak memperoleh kepercayaan diri dari kehangatan hubungan dan rasa percaya yang ditunjukkan oleh orang tuanya. Kalau dia 7 tahun sudah terbiasa mengurus diri sendiri dan bisa membantu adiknya .. dstnya
5.Begitu jugalah dengan pendidikan formal. Usahakanlah agar anak masuk sekolah usia sekitar 7 tahun . Diusia ini mereka secara fisik, perkembangan otak, emosi dan sosialnya lebih siap untuk belajar.
Berarti waktu kapan mulai masuk TKnya dihitung mundur.
Pilihan sekolah akan mengacu pada Tujuan Pengasuhan. Kita tak akan membua anak kita habis tenaga dan waktunya hanya sukses untuk akademis semata, karena kita punya hal hal lain yang harus dicapai.
Mencari sekolah punya dua pilihan :
Misalnya untuk SD:
a. Mata pelajaran padat tapi waktu pendek, pulag 11.30 atau jam
b. Waktu belajar panjang tapi materi tidak berat sesuai dengan kemampuan jarak perhatian dan kapasitas otak anak. Kita ingin anak tidak terbebani tapi mendapatkan pendidikan yang patut bagi usianya.
Sebagai contoh ada sekolah yang kelas satu pulang jam 2, tapi sejak jam 11.30 anak punya kesepatan tidur satu jam. Diatas jam12,30 tidak ada lagi mata pelajaran yang berat. Atau sekolah lain pelajarannya seperti berikut ini . Senin : Komputer – PKN – Silat. Selasa : Renang – Perpustakaan (baca buku) – IPS. Rabu: Bahasa Inggris – Perpustakaan – Penjas dstnya.
Karena kita punya target pengasuhan, maka kita harus mencari sekolah yang tepat dan menunjang tercapainya tujuan pengasuhan kita.
Anak kita harus punya waktu untuk bercengkrama denga orang tua dan saudaranya, beribadah dengan benar dan baik, bermain yang menyenangkan dan tidur yang cukup.
Saya teringat kata kata bijak dari tokoh pendidikan Amerika : Neil Postman, yang sejak tahun 1982 an sudah meramalkan keadaan anak anak kita dalam bukunya The disappearance of childhood.
“Jangan kau cabut anakmu dari dunianya terlalu cepat, karena kau akan menemukan orang orag dewasa yang ke kanak kanakan!”
Bukankah sudah banyak kita temukan hal serupa ?
Semoga tak terjadi pada anak kita.
Yuk kita hadapi dan atasi semua tantangan dalam pengasuhan anak anak kita ini . semoga Allah mudahkan dan sukseskan kita menghasilkan generasi yang tangguh dan membahagiakan dunia dan akhirat.
Selamat berjuang.
Minggu tengah malam, 4 Desember 2016.
Elly Risman
Silahkan share bila dianggap pantas.
Tuesday, August 8, 2017
Monday, August 7, 2017
Pesan Ibu Elly Risman
*Pesan Ibu Elly Risman*
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*
*Inilah pesan untuk para Orangtua:*
Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya?
Beranikah Anda membentaknya sekali saja?
Pasti enggak, kan?
Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.
Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul?
Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya?
*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah*, engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*
Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.
*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*
Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan, *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*
Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*
*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.
*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*
Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*
Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.
Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*
Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*
Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*
*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.
πΆπ¦π§πΆπ¦π§πΆπ¦π§
Untuk saya dan bapak ibu semua..
Share buat para orang tua...☺π
*Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*
*Inilah pesan untuk para Orangtua:*
Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya?
Beranikah Anda membentaknya sekali saja?
Pasti enggak, kan?
Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.
Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul?
Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya?
*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya.
*Jaga lisanmu,* duhai orangtua.
*Jangan pernah*, engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*
Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.*
*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.
*Jaga Jiwa Anakmu.*
Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.*
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
*Apakah ia mengerti ?*
Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan, *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.*
Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.*
Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*
Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.*
*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ?
Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.
*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.*
Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *‘malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?*
*Jangan salahkan* anak-anaknya.
*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*
Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.*
Bersabarlah.
*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*
Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.
Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu...*
Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*
Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.*
*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api.
*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*
Anak *tidak hormat* pada orangtua.
Anak *menjadi musuh* orangtua.
Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?*
*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari apa pun termahal yang ada di dunia
*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.
πΆπ¦π§πΆπ¦π§πΆπ¦π§
Untuk saya dan bapak ibu semua..
Share buat para orang tua...☺π
Labels:
Disiplin,
EllyRisman,
Komunikasi,
parenting,
Pengasuhan,
tantrum,
Teknologi
Surga Terdekat Kita
*NOTE FOR PARENTS: Surga Terdekat Kita*
Pernah merasa seharian tidak melakukan apa-apa melainkan hanya menemani anak-anak bermain, sibuk menyiapkan menu special untuk anak berlanjut perjuangan menyuapinya hingga hitungan jam, menggendongnya sampai pegal pinggang saat dia rewel, mengeloninya lalu ikut tertidur, mengurusi semua keperluannya hingga kemudian hari sudah mulai petang dan belum melakukan pekerjaan lainnya?
Pernah merasa wasting time saat anak bayi masa “growth spurt” ? Dimana aktivitasnya hanya nyusu dan nyusu dengan jeda tipis sehingga emaknya cuma bisa nyusuin dan nyusuin bahkan makan dan mandi pun sulit?
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Pernah merasa begitu banyak uang yang kita belanjakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan anak? Kebutuhan sehari-harinya, biaya sekolahnya, biaya pengobatannya serta berbagai fasilitas untuknya?
Pernah merasa begitu banyak hal yang kita korbankan untuk anak-anak? Ya soal waktu, tenaga, biaya …
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun sadarkah bahwa kita sedang mengeluhkan surga terdekat kita sendiri?
Bukankah kita mengerti bahwa salah satu amal jariyah kita ada pada mereka berikut juga dengan kedudukan kita di akhirat bisa tertolong oleh mereka?
Bukankah kita sudah mengerti bahwa surga mereka ada pada ridho kita? Mengapa masih saja terlintas kesal, sebal dan menganggap mereka merepotkan? Padahal kesalahan mereka sebagian besar adalah tanggungan kita sebagai orang tua. Padahal mungkin sebagian besar mereka tidak melakukan kesalahan hanya sedikit membuat repot dan mencari perhatian kita yang mahal harganya.
Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun nyatanya sedang mengeluhkan surga di depan mata.
Padahal mereka yang menyelamatkan hari-hari kita, padahal mereka yang menawarkan lebih dari jutaan peluang amalan bagi kita. Bukankah menyusui itu berpahala? Bukankah mendidik anak berpahala? Bukankah bersenda gurau dengan anak adalah apa yang Rasulullah saw ajarkan? Bukankah mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan mereka lebih berpahala dibandingkan hanya untuk memenuhi kebutuhanmu saja?
Pantas saja, menikah disebut setengah agama, begitu banyak amalan luar biasa dalam bangunan pernikahan lalu setengah agama lagi kita penuhi dengan takwa.
Jadi, masih bisakah kita mengeluhkan anak-anak kita? Tanpa mereka bisa jadi surga tak sampai pada kita, dan karena ridho kitalah mereka dapat menapaki surga.
Padahal kitalah yang sedang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya jika membersamai mereka. Padahal belum tentu juga kita akan membelanjakan waktu lebih baik jika tidak sibuk mengurusi mereka.
Kali kalau kita gak ribet seharian ngurusin anak-anak bisa jadi malah ribet gossiping, shopping, atau doing nothing bahkan making sin?!
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Segera peluk surga terdekat kita
*noteforme
By: Zarah Safeer
Pernah merasa seharian tidak melakukan apa-apa melainkan hanya menemani anak-anak bermain, sibuk menyiapkan menu special untuk anak berlanjut perjuangan menyuapinya hingga hitungan jam, menggendongnya sampai pegal pinggang saat dia rewel, mengeloninya lalu ikut tertidur, mengurusi semua keperluannya hingga kemudian hari sudah mulai petang dan belum melakukan pekerjaan lainnya?
Pernah merasa wasting time saat anak bayi masa “growth spurt” ? Dimana aktivitasnya hanya nyusu dan nyusu dengan jeda tipis sehingga emaknya cuma bisa nyusuin dan nyusuin bahkan makan dan mandi pun sulit?
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Pernah merasa begitu banyak uang yang kita belanjakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan anak? Kebutuhan sehari-harinya, biaya sekolahnya, biaya pengobatannya serta berbagai fasilitas untuknya?
Pernah merasa begitu banyak hal yang kita korbankan untuk anak-anak? Ya soal waktu, tenaga, biaya …
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun sadarkah bahwa kita sedang mengeluhkan surga terdekat kita sendiri?
Bukankah kita mengerti bahwa salah satu amal jariyah kita ada pada mereka berikut juga dengan kedudukan kita di akhirat bisa tertolong oleh mereka?
Bukankah kita sudah mengerti bahwa surga mereka ada pada ridho kita? Mengapa masih saja terlintas kesal, sebal dan menganggap mereka merepotkan? Padahal kesalahan mereka sebagian besar adalah tanggungan kita sebagai orang tua. Padahal mungkin sebagian besar mereka tidak melakukan kesalahan hanya sedikit membuat repot dan mencari perhatian kita yang mahal harganya.
Kita sibuk mengeluh, berpeluh dengan mereka namun nyatanya sedang mengeluhkan surga di depan mata.
Padahal mereka yang menyelamatkan hari-hari kita, padahal mereka yang menawarkan lebih dari jutaan peluang amalan bagi kita. Bukankah menyusui itu berpahala? Bukankah mendidik anak berpahala? Bukankah bersenda gurau dengan anak adalah apa yang Rasulullah saw ajarkan? Bukankah mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan mereka lebih berpahala dibandingkan hanya untuk memenuhi kebutuhanmu saja?
Pantas saja, menikah disebut setengah agama, begitu banyak amalan luar biasa dalam bangunan pernikahan lalu setengah agama lagi kita penuhi dengan takwa.
Jadi, masih bisakah kita mengeluhkan anak-anak kita? Tanpa mereka bisa jadi surga tak sampai pada kita, dan karena ridho kitalah mereka dapat menapaki surga.
Padahal kitalah yang sedang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya jika membersamai mereka. Padahal belum tentu juga kita akan membelanjakan waktu lebih baik jika tidak sibuk mengurusi mereka.
Kali kalau kita gak ribet seharian ngurusin anak-anak bisa jadi malah ribet gossiping, shopping, atau doing nothing bahkan making sin?!
Parents, semua kerepotan ini memang cuma soal waktu, namun tentang surga bukan persoalan sederhana sehingga wajar kalau ada harganya, jika ada jerih payahnya.
Segera peluk surga terdekat kita
*noteforme
By: Zarah Safeer
Wednesday, August 10, 2016
Toilet Training
Masing-masing anak berbeda-beda waktunya.
Sebaiknya diamati dulu tanda-tanda kesiapan anak menjalani Toilet Training (TT).
Tanda-tanda anak siap menjalani TT :
1. Ketika saat mau melakukan pipis atau pup anak melakukan kegiatan tertentu. Misalkan mojok, jongkok, turun dari kursi atau kegiatan lain yang unik.
2. Saat diapersnya penuh wajahnya gelisah, pegang-pegang diapersnya minta dibuka.
Kalau sudah menunjukkan tanda siap TT.
Kita kasih tau orang dewasa (ayah dan bunda) kalau mau pipis ke toilet. Kalau mau pup ke toilet.. jadi kakak juga ya kalau mau pipis atau pup ke toilet.
Dengan begini nanti lama-lama anak akan memahami bahwa kalau sudah jadi anak gede pipis sama pup di toilet.
Kemudian sugesti anak dengan mulai bilang..
"Waaaah.. udah berapa umur kakak sekarang.. (Dengan wajah happy ya)...
Eh kakak sudah umur x tahun
Udah gede ya.. (puji kebisaannya apa..)
Keren ya kakak udah bisa main ini... kakak udah gede ya? berarti abis ini kalau pipis sama pup di toilet ya.. kan udah gede.."
Terus aja diulang-ulang.
Biar terkoneksi antara pipis dan pup - toilet-anak gede-keren.
Semangat ya bunda !!!
Sebaiknya diamati dulu tanda-tanda kesiapan anak menjalani Toilet Training (TT).
Tanda-tanda anak siap menjalani TT :
1. Ketika saat mau melakukan pipis atau pup anak melakukan kegiatan tertentu. Misalkan mojok, jongkok, turun dari kursi atau kegiatan lain yang unik.
2. Saat diapersnya penuh wajahnya gelisah, pegang-pegang diapersnya minta dibuka.
Kalau sudah menunjukkan tanda siap TT.
Kita kasih tau orang dewasa (ayah dan bunda) kalau mau pipis ke toilet. Kalau mau pup ke toilet.. jadi kakak juga ya kalau mau pipis atau pup ke toilet.
Dengan begini nanti lama-lama anak akan memahami bahwa kalau sudah jadi anak gede pipis sama pup di toilet.
Kemudian sugesti anak dengan mulai bilang..
"Waaaah.. udah berapa umur kakak sekarang.. (Dengan wajah happy ya)...
Eh kakak sudah umur x tahun
Udah gede ya.. (puji kebisaannya apa..)
Keren ya kakak udah bisa main ini... kakak udah gede ya? berarti abis ini kalau pipis sama pup di toilet ya.. kan udah gede.."
Terus aja diulang-ulang.
Biar terkoneksi antara pipis dan pup - toilet-anak gede-keren.
Semangat ya bunda !!!
Labels:
balita,
bayi,
parenting,
toilet learning,
Toilet Training
Thursday, July 14, 2016
Resep Membuat Anak menjadi Baik
Bahan yang disediakan:
1. Anak yang sehat, fisik dan mental
2. Ibu yang penyayang, penyabar, gembira, cerdas, mau belajar dan berusaha
3. Ayah yang fun dan bersedia terlibat dan menyisihkan waktu untuk anak
4. Keluarga besar yang mendukung
5. Guru yang kreatif dan pendidik yang trampil
6. Teman-teman yang baik memberi pengaruh dan mengajak pada kebaikan
7. Masyarakat yang memberikan rasa aman dan mendukung pendidikan yang baik
Alat yang perlu dipersiapkan:
1. Ilmu Agama untuk menanamkan value
2. Ilmu Psikologi Perkembangan Anak, untuk memahami perkembangan anak
3. Ilmu Pendidikan, untuk memahami teknik-teknik mengajar anak
dan ilmu lainnya sesuai kebutuhan
Cara membuat:
- Diskusikan dengan pasangan, konsep pendidikan untuk anak sesuai value orangtua.
- Tentukan tujuan pendidikan, buat rincian perilaku anak baik seperti apa yang diharapkan. Sepakati bersama antara ayah dan ibu batasan perilaku tersebut
- Susun hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, sesuai dengan
- Buat pembagian tugas antara ayah dan ibu, termasuk mana yang menjadi wilayah guru di sekolah.
- Lakukan hal-hal yang sudah dikuasai dengan mengacu pada tujuan.
- Pelajari hal-hal yang masih belum dikuasai.
- Selalu cek/evaluasi perubahan dan pencapaian anak secara bertahap.
- Terbuka terhadap masukan dan feed back dari lingkungan.
- Buka mata terhadap lingkungan, pelajari pencapaian pasangan lain dalam pendidikan terhadap anaknya. Bila ada yang baik, jadikan resources. Bila ada yang buruk, jadikan pembelajaran.
- Fokus pada anak sendiri. Hindari membandingkan dan berkompetisi dengan anak lain atau pasangan lain.
- Antisipasi kegagalan dengan menyusun rencana preventif dan mempersiapkan problem solving untuk tindakan kuratif bila terjadi kegagalan.
- Libatkan orang-orang di lingkungan anak dengan share hal-hal yang menjadi fokus orangtua.
- Bumbu: hadiah, hukuman, kemanjaan, disiplin, dll, berikan sesuai kebutuhan dan secukupnya. Terlalu sedikit hidup menjadi hambar, terlalu banyak menyesakkan.
- Cari strategi ketika bahan dan peralatan tidak memadai
- Berdoa sebanyak-banyaknya meminta pertolongan Allah.
Sajikan dan nikmati hasilnya sepanjang hidup dan setelah orangtua meninggal dunia, ketika anak mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dan ketika anak memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain
*Jika parenting semudah mengikuti resep masakan
Yeti Widiati 140716
1. Anak yang sehat, fisik dan mental
2. Ibu yang penyayang, penyabar, gembira, cerdas, mau belajar dan berusaha
3. Ayah yang fun dan bersedia terlibat dan menyisihkan waktu untuk anak
4. Keluarga besar yang mendukung
5. Guru yang kreatif dan pendidik yang trampil
6. Teman-teman yang baik memberi pengaruh dan mengajak pada kebaikan
7. Masyarakat yang memberikan rasa aman dan mendukung pendidikan yang baik
Alat yang perlu dipersiapkan:
1. Ilmu Agama untuk menanamkan value
2. Ilmu Psikologi Perkembangan Anak, untuk memahami perkembangan anak
3. Ilmu Pendidikan, untuk memahami teknik-teknik mengajar anak
dan ilmu lainnya sesuai kebutuhan
Cara membuat:
- Diskusikan dengan pasangan, konsep pendidikan untuk anak sesuai value orangtua.
- Tentukan tujuan pendidikan, buat rincian perilaku anak baik seperti apa yang diharapkan. Sepakati bersama antara ayah dan ibu batasan perilaku tersebut
- Susun hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, sesuai dengan
- Buat pembagian tugas antara ayah dan ibu, termasuk mana yang menjadi wilayah guru di sekolah.
- Lakukan hal-hal yang sudah dikuasai dengan mengacu pada tujuan.
- Pelajari hal-hal yang masih belum dikuasai.
- Selalu cek/evaluasi perubahan dan pencapaian anak secara bertahap.
- Terbuka terhadap masukan dan feed back dari lingkungan.
- Buka mata terhadap lingkungan, pelajari pencapaian pasangan lain dalam pendidikan terhadap anaknya. Bila ada yang baik, jadikan resources. Bila ada yang buruk, jadikan pembelajaran.
- Fokus pada anak sendiri. Hindari membandingkan dan berkompetisi dengan anak lain atau pasangan lain.
- Antisipasi kegagalan dengan menyusun rencana preventif dan mempersiapkan problem solving untuk tindakan kuratif bila terjadi kegagalan.
- Libatkan orang-orang di lingkungan anak dengan share hal-hal yang menjadi fokus orangtua.
- Bumbu: hadiah, hukuman, kemanjaan, disiplin, dll, berikan sesuai kebutuhan dan secukupnya. Terlalu sedikit hidup menjadi hambar, terlalu banyak menyesakkan.
- Cari strategi ketika bahan dan peralatan tidak memadai
- Berdoa sebanyak-banyaknya meminta pertolongan Allah.
Sajikan dan nikmati hasilnya sepanjang hidup dan setelah orangtua meninggal dunia, ketika anak mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dan ketika anak memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain
*Jika parenting semudah mengikuti resep masakan
Yeti Widiati 140716
Wednesday, July 13, 2016
Tingkat Perkembangan Motorik Halus Berdasarkan Usia
Motorik halus adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang pada tingkat perkembangannya yang berhubungan dengan koordinasi fisik, sel otak dan koordinasi mata sehingga seorang anak mencapai kemampua sesuai dengan perkembangannya.
Kemampuan Motorik halus adalah tingkatan perkembangan yang harus dimiliki oleh setiap anak pada masing-masing perkembangannya. Masing-masing perkembangan motorik halus anak akan berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan anak termasuk dalam kecerdasan dan keadaan fisik anak, stimulus yang anak dapat dari lingkungan keluarganya termasuk dalam pola asuh dan pola didik serta perkembangan kemampuan masing-masing anak.
Berikut ini tingkat perkembangan motorik halus menurut tingkatan usia :
1. Usia 1- 2 tahun
a. Memegang alat tulis
b. Membuat coretan bebas
c. Menyusun menara dengan 3 balok
d. Memegang gelas dengan 2 tangannya
e. Menumpahkan benda-benda dari wadah dan memasukkanya kembali
f. Meniru garis vertikal dan horizontal
g. Memasukkan benda ke dalam wadah yang sesuai
h. Membalik halaman buku walau belum sesuai
i. Menyobek kertas
2. Usia 2-3 tahun
a. Meremas kertas atau kain dengan menggunakan lima jari
b. Melipat kertas meskipun belum rapi/lurus
c. Menggunting kertas tanpa pola
d. Koordinasi tangan cukup baik untuk memegang benda pipih seperti sikat gigi dan sendok
3. Usia 3-4 tahun
a. Menuangkan air, pasir atau biji-bijian kedalam tempat penampung (ember, mangkuk)
b. Memasukkan benda kecil kedalam botol (potongan lidi, kerikil atau biji-bijian)
c. Meornce manikmanik yang tidak terlalu kecil dengana benang yang agak kaku
d. Menggunting kertas dengan pola garis lurus
4. Usia 4-5 tahun
a. Membuat garis vertikal, horizontal, garis lengkung kiri/ kanan, miring kiri/kanan dan lingkaran
b. Menjiplak bentuk
c. Mengkoordinasi jari tangan dan mata untuk meniru bentuk tulisan
d. Meniru bentuk dari berbagai media
e. Membuat bentuk dari bahan tanah liat/plastisin atau media lainnya sesuai dengan ekspresi diri
5. Usia 5-6 tahun
a. Menggambar sesuai dengan gagasannya
b. Meniru bentuk dengan berbagai media (menulis bentuk, melipat, membentuk plastisin)
c. Melakukan ekspolari dengan berbagai media
d. Menggunting sesuai pola
e. Menempel gambar dengan tepat
f. Menggambar secara detail
Kemampuan Motorik halus adalah tingkatan perkembangan yang harus dimiliki oleh setiap anak pada masing-masing perkembangannya. Masing-masing perkembangan motorik halus anak akan berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan anak termasuk dalam kecerdasan dan keadaan fisik anak, stimulus yang anak dapat dari lingkungan keluarganya termasuk dalam pola asuh dan pola didik serta perkembangan kemampuan masing-masing anak.
Berikut ini tingkat perkembangan motorik halus menurut tingkatan usia :
1. Usia 1- 2 tahun
a. Memegang alat tulis
b. Membuat coretan bebas
c. Menyusun menara dengan 3 balok
d. Memegang gelas dengan 2 tangannya
e. Menumpahkan benda-benda dari wadah dan memasukkanya kembali
f. Meniru garis vertikal dan horizontal
g. Memasukkan benda ke dalam wadah yang sesuai
h. Membalik halaman buku walau belum sesuai
i. Menyobek kertas
2. Usia 2-3 tahun
a. Meremas kertas atau kain dengan menggunakan lima jari
b. Melipat kertas meskipun belum rapi/lurus
c. Menggunting kertas tanpa pola
d. Koordinasi tangan cukup baik untuk memegang benda pipih seperti sikat gigi dan sendok
3. Usia 3-4 tahun
a. Menuangkan air, pasir atau biji-bijian kedalam tempat penampung (ember, mangkuk)
b. Memasukkan benda kecil kedalam botol (potongan lidi, kerikil atau biji-bijian)
c. Meornce manikmanik yang tidak terlalu kecil dengana benang yang agak kaku
d. Menggunting kertas dengan pola garis lurus
4. Usia 4-5 tahun
a. Membuat garis vertikal, horizontal, garis lengkung kiri/ kanan, miring kiri/kanan dan lingkaran
b. Menjiplak bentuk
c. Mengkoordinasi jari tangan dan mata untuk meniru bentuk tulisan
d. Meniru bentuk dari berbagai media
e. Membuat bentuk dari bahan tanah liat/plastisin atau media lainnya sesuai dengan ekspresi diri
5. Usia 5-6 tahun
a. Menggambar sesuai dengan gagasannya
b. Meniru bentuk dengan berbagai media (menulis bentuk, melipat, membentuk plastisin)
c. Melakukan ekspolari dengan berbagai media
d. Menggunting sesuai pola
e. Menempel gambar dengan tepat
f. Menggambar secara detail
Kedudukan Anak dalam Al Qur'an
Anak adalah anugerah
4 kedudukan anak dalam Al-Qur'an :
1. Anak sebagai musuh. hal ini Allah jelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
2. Anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Taghabun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.
3. Anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.
4. Anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya.
Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita.
Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya.
Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Dari ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun.
Namun untuk mencapainya Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya.
Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya.
Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah.
Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya.
Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat.
Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.
4 kedudukan anak dalam Al-Qur'an :
1. Anak sebagai musuh. hal ini Allah jelaskan dalam surat At-Taghabun ayat 14 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” Yang dimaksud anak sebagai musuh adalah apabila ada anak yang menjerumuskan bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
2. Anak sebagai fitnah atau ujian, hal ini Allah jelaskan dalam surat at-Taghabun ayat 15, yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anamu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” Fitnah yang dapat terjadi pada orangtua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negative. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya.
3. Anak sebagai perhiasan, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 46, yang artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.
4. Anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, hal ini Allah jelaskan dalam surat Al Furqon ayat 74, yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Kedudukan anak yang terbaik adalah manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya.
Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah, seperti shalat, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita.
Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya.
Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Dari ke-empat kedudukan anak tersbut, tentu sebagai orang tua menginginkan agar anak-anaknya termasuk ke dalam kelompok qurrota a’yun.
Namun untuk mencapainya Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya.
Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya.
Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah.
Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya.
Kemudian, orang tua hendaknya menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang baik dan berkualitas, juga mempraktikkan amalan-amalan sunnah di sekolah.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah orangtua hendaknya memperhatikan pergaulan anak-anaknya di dalam masyarakat.
Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak anak-anak mereka.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.
Subscribe to:
Posts (Atom)